Majalah Sindo Weekly
Berlangganan Sindo Weekly


Main Review

NO. 16 TAHUN I, 21-27 JUNI 2012

Operasi Senyap Saudara Tua

Penulis: Irman Abdurrahman, Sukron Faisal, I. Husni Isnaini
Operasi Senyap Saudara Tua

Yudhi Mahatma/Antara

S

aya sedang sakit, sudah dirawat tiga hari di rumah sakit," kata Letnan Jenderal (Purn) Tiopan Bernhard Silalahi kepada SINDO Weekly menampik permintaan wawancara.

Sejak PD dilanda kemelut yang memorak-porandakan citranya, sinar mantan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara pada era Orde Baru itu terbit kembali di ufuk. T.B. Silalahi yang menjabat Sekretaris Jenderal Dewan Kehormatan Partai Demokrat diserahi tugas mengetuai Komisi Pengawas oleh Ketua Dewan Kehormatan Susilo Bambang Yudhoyono. Tugasnya cukup berat: membersihkan anasir korup dari partai penguasa itu.

Namun, desas-desus politik menyebut itu bukan tugas sesungguhnya. T.B. Silalahi mengemban tugas klandestin. Dia mengomandani sebuah operasi khusus. Targetnya, menggusur Anas Urbaningrum dari kursi ketua umum partai. Wah! Cerita yang lebih seru bahkan menyebut dana ratusan miliar sudah digulirkan untuk memuluskan operasi. Beberapa politisi senior partai pun dilibatkan.

Skema operasi disusun. Di wilayah resmi, Komisi Pengawas mencoba mendelegitimasi kepemimpinan Anas dengan mencuatkan isu politik uang dalam Kongres Nasional II Partai Demokrat di Bandung. Sejumlah bekas pengurus partai di daerah digiring ke Jakarta untuk menjadi saksi telah menerima miliaran rupiah dari kubu Anas.

Sementara di wilayah tak resmi, dibentuklah FKPD. Inilah forum yang menghimpun para sesepuh partai. Dari forum ini muncul nama Ventje Rumangkang. FKPD terus menghujamkan cakarnya. Tak lama lagi, FKPD akan dibentuk di tingkat provinsi dan kabupaten/kota hingga kecamatan.

Isunya, forum itu bekerja mengamputasi proyek institusionalisasi partai yang dijalankan Anas. Efeknya sudah mulai terasa. Sejumlah konflik kepengurusan pun terjadi di daerah. Puncaknya, sejumlah kader partai menolak kedatangan Anas dan Sekretaris Jenderal Edhie Baskoro Yudhoyono di Bandara Ternate, Maluku Utara, akhir Mei lalu.

Sumber SINDO Weekly di PD menyebut Ventje bukan satu-satunya figur sentral dalam FKPD. Nama lain, Isran Noor. Ketua DPD Kalimantan Timur yang juga Bupati Kutai Timur itu dia sebut mendanai semua kegiatan forum. Bahkan, kata sumber itu, Isran berambisi menjadi calon wakil presiden pada 2014.

Informasi itu bisa jadi benar. Sebab, Isran tanpa sungkan pernah mendesak Anas mundur. "Harus kita akui, permasalahan Anas membuat citra partai terus menurun akhir-akhir ini," katanya awal Februari silam. Jika Anas mundur, Isran bahkan siap menduduki posisi puncak partai. "Kalau memang ada dukungan dari pengurus Demokrat lain, tentu saya siap." Dia yakin bisa mengembalikan kejayaan partai seperti pada Pemilu 2009.

Namun, Ventje membantah semua itu. FKPD, dia bilang, gerakan moral. Tujuannya, membantu pengurus DPP dan DPD mengembalikan citra dan elektabilitas partai. "Kami merasa terpanggil. Ada tanggung jawab moral. Ada rasa empati supaya PD tidak menurun terus," katanya, Selasa pekan ini. Ventje pun menepis isu Isran telah membiayai seluruh aktivitas forum. "Itu tidak benar."
 
Pengamat politik LIPI Siti Zuhro memiliki pengamatan lain. Katanya, FKPD jelas manuver politik untuk menyisihkan peran ketua umum. "Dalam politik, FKPD bisa disebut politik menakut-nakuti. Forum ini berimplikasi negatif karena akan membingungkan kader dan membuat partai terfragmentasi." Bagi Siti, hadirnya forum itu semakin memperjelas faksionalisasi di tubuh Demokrat. "Dulu ada faksi Anas, Andi Mallarangeng, dan Marzuki Alie. Yudhoyono seolah berada di atas semuanya. Tapi sekarang, sepertinya faksionalisasi berubah menjadi yang tua-tua melawan Anas," katanya.

Siap Bela Pati

Anas bisa memahami jika spekulasi menjadi liar terkait keberadaan FKPD. Sebab, dia bilang, cuma Demokrat partai yang memiliki forum bagi pendiri dan deklarator. Tapi toh dia masih berpandangan positif. "Saya kira itu hal yang positif saja sepanjang diniatkan, diorientasikan, dan didedikasikan untuk memperkuat barisan partai. Saya selalu mengedepankan sikap berbaik sangka, apalagi kepada senior-senior. Kalau berburuk sangka kepada senior, itu bisa dosa," katanya.

Anas memang piawai. Meski digempur kiri-kanan, ia bergeming. Setelah enam bulan berlalu, jika benar ada, maka operasi senyap tetua partai itu sejati hanya meninju angin. Bukan hanya Anas tak tergusur, tapi semakin kuat. Siti Zuhro memandang upaya penggusuran masih bersifat elitis, sedangkan akar rumput partai masih solid mendukung Anas. "Dukungan bagi Anas masih besar, 89 persen," hitungnya.

Di lapangan, kata sumber SINDO Weekly, sebagian besar pengurus DPP, DPD, dan DPC memang solid di belakang Anas. Bahkan, katanya, ada yang siap "bela pati" jika posisi Anas diusik. Tak cuma itu, sumber itu bilang Sekretaris Jenderal Partai Edhie Baskoro Yudhoyono alias Ibas, yang tak lain putra Yudhoyono, berada di pihak Anas.
 
"Yudhoyono memang sedang mempertaruhkan dirinya, baik di pemerintahan maupun partai. Apa warisan krusial dari pemerintahannya selama dua periode ini? Itu yang dia pertaruhkan," kata Siti Zuhro.

Keberadaan Forum Komunikasi Pendiri dan Deklarator (FKPD) Partai Demokrat (PD) dinilai bagian dari manuver politik pengguruan Anas Urbaningrum. Tapi posisi Anas malah bertambah kuat.

"Sekali Demokrat, Pernah di Barnas"

Ventje Rumangkang, 67 tahun, belum habis. Di tengah anjloknya pamor Partai Demokrat (PD), dia datang kembali bak juru selamat. Lewat Forum Komunikasi Pendiri dan Deklarator (FKPD) PD yang dia dirikan pada 2011, Ventje bertekad mengembalikan kejayaan partai yang pernah ia bidani bersama Susilo Bambang Yudhoyono.

Ventje bukan nama baru di Demokrat. Dialah salah satu anggota Tim 9 yang berperan mematangkan konsep pendirian partai. Namun, itu bukan berarti karier politiknya di Demokrat berjalan tanpa cela. Pada 2007, Ventje patah arang. Dia memutuskan keluar dari PD dan mendirikan Partai Barisan Nasional (Barnas). Karena itu, tak sedikit kalangan mencibirnya. Pasalnya, pada pertemuan FKPD di Hotel Sahid pekan lalu, spanduk raksasa yang memajang foto dirinya bersama Yudhoyono menuliskan jargon, "Sekali Demokrat, Tetap Demokrat".

Ventje mengakui noda itu. "Harus diakui, ada masalah-masalah prinsip yang terjadi waktu itu sehingga akhirnya saya meninggalkan partai," katanya kepada SINDO Weekly. "Apa salahnya kami kembali ke rumah yang fondasi dan bangunannya kami bangun waktu itu," lanjutnya.

Kini, Ventje tak hanya kembali. Dia berada tepat di pusaran konflik dan pada saat partai menghadapi saat paling menentukan dalam sejarahnya. FKPD yang menjadi kendaraannya saat ini diduga menjadi alat politik untuk menggusur Anas Urbaningrum dari kursi ketua umum.

Ventje membantah. "Secara pribadi, saya dengan Pak Anas itu baik hubungannya." Toh, Anas pun menyambut baik kembalinya sang sesepuh. Tapi, dia segera mengingatkan, "Biar sejarah ke depan yang membuktikan ini positif atau tidak."

Sejarah tampaknya sekali lagi akan menguji komitmen Ventje kepada Demokrat. Apalagi kini partai itu diprediksi tak akan menikmati kejayaan seperti pada 2009.







Berlangganan Sindo Weekly