Majalah Sindo Weekly
ESET NOD32 ANTIVIRUS


Main Review

NO. 17 TAHUN II, 27 JUNI - 3 JULI 2013

Pulangnya Buronan BLBI

Penulis: Ranap Simanjutak
Pulangnya Buronan BLBI

MUHAMMAD DEFFA/ANTARA

S

udah 14 bulan Sherny Kojongian begitu resah. Di Negeri Paman Sam, terpidana 20 tahun kasus BLBI itu harus bolak-balik ke Pengadilan San Francisco. Sherny mengajukan hak suaka, namun ditolak. Ketok palu Pengadilan San Francisco memutuskan untuk mendeportasinya ke Indonesia. Dirinya kemudian melakukan banding hingga dua kali, namun juga kalah.

Satuan Immigration dan Customs Enforcement (ICE) San Francisco membekuknya atas red notice dari ICPO-Interpol di Lyon, Perancis yang dikeluarkan 2006. Surat penahanan sementara itu sendiri datang dari permintaan NCB-Interpol Indonesia.

Bermula dari laporan Interpol Washington DC kepada Interpol Jakarta pada 10 Agustus 2009. Otoritas di AS tersebut mengidentifikasi identitas perempuan mirip Sherny yang punya izin tinggal tetap. Singkatnya, lewat jalan berliku akhirnya ICE di San Francisco menahan perempuan yang berupaya keras mendapatkan kewarganegaraan AS itu pada 16 November 2010.

Sherny mau tak mau harus dideportasi. Ia tiba di Tanah Air, Rabu dua pekan silam. Dan kini, ia mendekam di Lembaga Pemasyarakatan Tangerang.

Tak pelak, tertangkapnya mantan Direktur Kredit dan Treasury Bank Harapan Sentosa (BHS) itu mengentak banyak orang. Mengingatkan kembali tentang mereka yang mengemplang dana Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) era krisis moneter.

Sherny melarikan diri sejak 21 Oktober 1998. PN Jakarta Pusat pada 22 Maret 2002 memutuskan Sherny bersalah meski tanpa kehadirannya (in absentia). Pengadilan memvonis perempuan kelahiran Manado, 8 Februari 1963 ini 20 tahun kurungan, bersama dua terpidana lainnya yang tak lain keluarga sendiri. Komisaris Utama BHS Hendra Rahardja, mertua Sherny, divonis seumur hidup, sementara sang suami, Eko Edi Putranto, yang sebelumnya menjabat Komisaris BHS dipidana 20 tahun pula. Ketiganya terbukti menggelapkan BLBI senilai Rp2,6 triliun kepada enam perusahaan di bawah grup PT BHS.

Hendra Rahardja meninggal dalam pelarian di Australia pada 26 Januari 2003. Sementara Eko Edi Putranto hingga kini tak diketahui jejaknya. Wakil Jaksa Agung Darmono mengungkapkan Sherny mengaku tak tahu keberadaan Eko. "Dia bilang tidak ada kontak selama ini. Dia bilang sudah pisah selama puluhan tahun, tidak pernah kontak," terang Darmono.

Namun, Indonesia Corruption Watch (ICW) merasa janggal dengan penangkapan Sherny yang berkesan heboh. Anggota badan pekerja ICW Emerson Yuntho menilai masih ada terpidana kasus tersebut yang diproses hukum sampai di penjara dan ada juga yang bebas. Dirinya pernah mendengar ada empat obligor dipanggil ke Istana menyanggupi bayar utang. "Catatan kami, ada dua belas orang obligor yang melunasi utangnya pada 2003. 30% tunai dan sisanya penjualan aset yang perlu ditelusuri bodong atau tidak. Tapi, sampai sekarang tidak jelas. Catatan hasil audit BPK dari banyak obligor atau debitor BLBI itu dinilai kooperatif. Karenanya tak pernah jelas update kewajiban utang tersebut," ujar Emerson kepada Yohannes Tobing dari SINDO Weekly.

Pendanaan Menjelang Pemilu 2004?

ICW curiga ada intervensi politik. Sebab menurut Emerson, pemberian surat keterangan lunas ini bisa terkait dengan pendanaan menjelang Pemilu 2004. "ICW menduga tak ada 'makan siang gratis' bagi pemberian SK tersebut. Perlu ditelusuri lagi apakah benar atau tidak adanya money politics," ujarnya.

Berdasarkan data ICW, hingga akhir 2005, dari 65 orang yang diperiksa, baru 16 orang yang diproses ke pengadilan. Sementara 7 tersangka lainnya masih terus dalam tahap penyelidikan. "Lebih memprihatinkan lagi, sudah 11 tersangka yang dihentikan penyidikannya oleh kejaksaan (SP3) dan sebagian di antaranya diduga melarikan diri," sebut Emerson.

Lebih lanjut, Emerson juga menunjuk beberapa kasus BLBI yang proses hukumnya masih belum jelas. Misalnya Bos Gadjah Tunggal, Syamsul Nursalim. Selain dijerat dengan BLBI BDNI, juga dijerat BLBI Bank Dewa Rutji. Perkiraan kerugian negara mencapai Rp6,9 triliun dan US$96,7 juta. Kasus Syamsul masih dalam proses penyidikan, namun kasusnya dihentikan (SP3) oleh Kejaksaan. Beberapa hari kemarin, ia sempat terlihat dalam sebuah acara di Singapura.

Di luar Sherny Kojongian, ICW juga mencatat sejumlah obligor yang menjadi buron, misalnya Bambang Sutrisno dan Andrian Kiki Ariawan. Keduanya terlibat dalam korupsi BLBI Bank Surya. Perkiraan kerugian negara mencapai Rp1,5 triliun. Proses hukum berjalan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Bambang lari ke Singapura dan Hong Kong, sedangkan Andrian ke Singapura dan Australia. Pengadilan memvonis keduanya in absentia.

Selain itu, juga ada David Nusa Wijaya. Ia terlibat dalam korupsi BLBI Bank Servitia dan diduga merugikan negara sebesar Rp1,29 triliun. Saat dalam proses kasasi, David melarikan diri ke Singapura dan Amerika Serikat. Namun, ia tertangkap oleh Tim Pemburu Koruptor di Amerika. Ada pula Samadikun Hartono, terlibat dalam korupsi BLBI Bank Modern. Dalam kasus ini, ia diperkirakan merugikan negara sebesar Rp169 miliar. Kasus Samadikun dalam proses kasasi. Ia melarikan diri ke Singapura.

Agus Anwar, terlibat dalam korupsi BLBI Bank Pelita. Dalam kasus ini diperkirakan merugikan negara sebesar Rp1,9 triliun. Kasusnya saat itu masih dalam proses penyidikan. Saat melarikan diri ke Singapura, Agus diberitakan berganti kewarganegaraan Singapura. Proses selanjutnya tidak jelas.

Lalu Atang Latief yang terlibat dalam korupsi BLBI Bank Indonesia Raya dengan kerugian negara Rp155 miliar. Kasus tersebut masih dalam penyelidikan. Atang melarikan diri ke Singapura. Menurut ICW, masih berstatus terduga. Masuk daftar cekal. Proses hukum tidak jelas.

Juga ada Lidya Muchtar yang terkait kasus BLBI Bank Tamara. Tak tercatat asal perusahaannya. Ia melarikan diri ke Cina. Kasus tersebut dalam proses penyelidikan. Ia melarikan diri ke Singapura.

Meskipun enam belas orang pelaku korupsi BLBI sudah dibawa ke pengadilan dan beberapa telah dihukum berat—seumur hidup atau 20 tahun penjara—namun menurut ICW, hasil yang dicapai sangat mengecewakan. Mengapa? Tiga tersangka dibebaskan oleh pengadilan. Dari tiga belas tersangka yang telah divonis penjara, baik di tingkat pertama (PN), banding, atau kasasi, hanya Hendrawan Haryono—terpidana kasus korupsi BLBI Aspac—yang berhasil dijebloskan ke penjara. Dua terdakwa lainnya tidak langsung masuk ke bui dan yang paling buruk adalah sembilan orang terdakwa telah melarikan diri sebelum vonis hakim dijatuhkan.

Wakil Jaksa Agung Darmono menyatakan Kejaksaan Agung masih mencari 23 koruptor BLBI. Namun, ia tak menyebutkan nama 23 orang tersebut. Ia menyatakan Kejaksaan Agung masih melakukan pencarian para koruptor itu dengan kerja sama bersama Interpol Indonesia.

Tertangkapnya terpidana kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI), Sherny Kojongian, kembali membuka kotak pandora kisah lama tentang pengemplang duit negara. Bagaimana dengan buronan lainnya?

DAFTAR PENERIMA SURAT KETERANGAN LUNAS
No  Nama Pemegang Saham Bank Nilai Utang
    (dalam miliar rupiah)
1 Hendra Liem Budi  Internasional  16,95
2 The Ning King  Danahutama  23,00
3 Sudwikatmono  Surya  1,887
4 Ibrahim Risjad  Risjad Salim Internasional (RSI)  10,664
5 Soedono Salim  Bank Central Asia (BCA)  52,767
6 Siti Hardijanti Rukmana  Yakin Makmur (Yama)  155
7 Hasjim Djojohadikusumo  Papan Sejahtera  216,98
8 Njoo Kok Kiong  Papan Sejahtera  108,49
9 Honggo Wendratmo  Papan Sejahtera  108,49
10 Andy Hartawan Sardjito  Baja Internasional  32,66
11 Soeparno Adijanto  Bumi Raya Utama  24,81
12 Mulianto Tanaga  Indotrade 32,662
13 Philip S. Widjaja  Mashill  14,90
14 Ganda Eka Handria  Sanho  4,41
15 Nirwan Bakrie  Nusa Nasional  3.006,16
16 Husudo Angkosubroto  Sewu Internasioanal  209,20
17 Iwan Suhardiman  Tamara  35,61
18 The Ning Kong  Baja Internasional  45,14
19 The Tje Min  Hastin  139,79
20 Samsul Nursalim  BDNI  28.408,00
21 Bob Hasan  BUN  5.341,00
22 Usman Admadjaja  Danamon  12.533,00
     
Sumber : ICW    
     
Daftar Obligor yang belum memenuhi kewajibannya
No    Nama Pemegang Saham Bank Nilai Utang
    (dalam miliar rupiah)
1 Atang Latief  Indonesia Raya  325,46
2 James Januardy    
    Adissaputra Januardy Namura Internusa  123,04
3 Ulung Bursa  Lautan Berlian  615,44
4 Lidia Mochtar  Tamara  202,80
5 Omar Putirai  Tamara  190,17
6 Marimutu Sinivasan  Putera Multikarsa  1.130,61
7 Kaharudin Ongko  BUN  8.348,00
8 Samadikun Hartono  Modern  2.663,0
Sumber:  ICW/BPPN    
     
DAFTAR BANKIR YANG DISERAHKAN KE KEPOLISIAN
     
No  Nama Pemegang Saham Bank  Nilai Utang
    (dalam miliar rupiah)
1 Baringin Pangabean Namura Internusa   
    Joseph Januardy Metropolitan 158,93
2 Santosa Sumali  Intan  46,55
3 Fadel Muhammad  Bahari  93,28
4 Santosa Sumali  PSP  295,05
5 Trijono Gondokusuma    3.3031,11
6 Hengky Wijaya Tata   
    Taony Tanjung   461,99
7 I Gde Dermawan    
   Made Sudiarta Aken  680,89
8 Tarunojoyo Nusa Umum Servitia   
    David Nusa Widjaya BUN  3.336,44
9 Kaharudin Ongko  Modern  8.348,00
10 Samadikun Hartono    2.663,0

 







ESET NOD32 ANTIVIRUS