Majalah Sindo Weekly
Berlangganan Sindo Weekly


Analysis

NO. 18 TAHUN I, 5 - 11 JULI 2012

Himawan Wijanarko Ketua AMA

Lomba Inovasi

Lomba Inovasi

B

eberapa waktu lalu, Research in Motion (RIM), sang produsen BlackBerry, mengumumkan akan mengurangi jumlah karyawannya hingga 5000 orang, kurang lebih sepertiga dari total karyawannya. RIM juga mengumumkan penundaan peluncuran ponsel pintar BlackBerry hingga 10 tahun ke depan. Menurut CEO RIM, Thorsten Heins, penundaan dilakukan akibat kesulitan berkaitan dengan fitur-fitur baru. Saat ini perusahaan yang dipimpinnya sedang melaksanakan apa yang ia sebut "kaji ulang strategis". BlackBerry 10 diharapkan mampu bersaing dengan iPhone dan ponsel-ponsel yang menggunakan Android. Menurut data IDC, ponsel pintar yang menggunakan perangkat lunak Android menguasai pasar 59 persen, sementara iPhone menguasai 23 persen.

    Pasca-pengumuman penundaan peluncuran ponsel pintar BlackBerry 10 itu, saham RIM anjlok 14 persen. RIM, yang pertama kali menciptakan surat elektronik bergerak (email mobile), memang tak lagi memimpin pasar ponsel pintar. Produk yang gagal di pasar, penundaan, dan layanan yang tidak memuaskan kerap menjadi cerita. Kinerja perusahaan merosot. Akhir bulan lalu, RIM mengumumkan kerugian sebesar US$518 juta. Pendapatan anjlok 44 persen ketimbang periode yang sama tahun sebelumnya.
Sebagian memperkirakan pengurangan jumlah karyawan akan berlanjut di masa datang. Kemungkinan perusahaan dijual atau dipecah juga mulai diperbincangkan. Padahal, pada 2009, BlackBerry sempat menguasai  lebih kurang 53 persen pangsa pasar ponsel pintar.

    Akankah BlackBerry menyusul Walkman, produk legendaris Sony yang terpaksa dihentikan produksinya? Produk yang oleh Asosiasi Ilmu Pengetahuan Inggris dinobatkan sebagai salah satu dari 10 jenis inovasi yang mengubah dunia, harus mengakui produk yang lebih inovatif, iPod dari Apple. Walkman menjadi salah satu inovasi pemasaran paling sukses pada zamannya.

    Kejatuhan Walkman berawal tatkala Apple memperkenalkan iPod. Meski hanya berukuran kecil, iPod dapat menyimpan 10.000 lagu dan mengopi seluruh CD audio dalam waktu singkat. Kemudian iPod membuka  "iTunes Music Store (ITMS)". Hanya dengan 99 sen, setiap orang dapat mengunduh lagu secara legal. Selang sebulan,  ITMS berhasil menjual jutaan lagu, diikuti penjualan jutaan iPod. Jika Walkman membutuhkan 30 tahun untuk menjual 220 juta unit, iPod mencapainya dalam waktu kurang dari sembilan tahun.
 
    Walaupun sama-sama tergencet produk inovatif Apple (selain Android), barangkali nasib BlackBerry belum seburuk Walkman. Di Asia Tenggara, BlackBerry masih Berjaya dan Indonesia adalah  pasar yang penting. Head of RIM Asia Gregory Wade di ajang Mobile World Congress di Barcelona, menyatakan Indonesia adalah ajang pembuktian ekspansi BlackBerry di Asia Tenggara dan merupakan bagian penting bagi strategi  RIM di Asia.

Lembaga riset Canalys menyebutkan, BlackBerry baru menguasai 9 persen pasar ponsel pintar di Indonesia 2009. Tahun berikutnya, meningkat menjadi 34 persen serta 47 persen pada 2011. Bandingkan dengan pangsa pasar mereka di AS. 2009, BlackBerry menguasai 53 persen, tahun berikutnya melorot menjadi 35 persen, dan 2011 tersisa 13 persen. Pertumbuhan BlackBerry di Indonesia memang fenomenal, peningkatan pangsa pasarnya pernah menembus 500 persen.

    Mengapa BlackBerry meraih kesuksesan besar di Indonesia? Jawabannya adalah BlackBerry Messenger (BBM)! BBM bukan hanya sekadar pengolah pesan biasa, tapi sebuah komunitas. Orang Indonesia secara umum lebih membutuhkan jejaring sosial ketimbang fitur-fitur canggih lainnya. Lihat saja orang Indonesia yang selalu menduduki peringkat atas untuk jejaring sosial macam Facebook. BBM inilah sebenarnya yang menjadi kekuatan BlackBerry yang telah tertinggal dalam perlombaan inovasi.







Berlangganan Sindo Weekly