Majalah Sindo Weekly
Berlangganan Sindo Weekly


Art

NO. 2 TAHUN II, 14 - 20 MARET 2013

Generasi Baru Seni Rupa Cina

Penulis: Sjafrial Arifin
Generasi Baru Seni Rupa Cina

SINDOWEEKLY/TATANG MUCHTAR

Sebanyak 17 seniman dari Negeri Tirai Bambu mejeng di Jakarta dengan 35 karya berbeda seperti lukisan, patung, sampai instalasi. Mereka disebut sebagai generasi baru seni rupa yang lebih spesifik.

K

etika Barat (Eropa dan Amerika) menganggap seni rupa kontemporer sebagai manifestasi sikap antitesis terhadap kreator avant-garde, toh ekspresi mutakhir masih belum berujung. Setidaknya itulah yang mencuat pada pameran berjuluk Mirror & Shadow yang menghadirkan 17 perupa Cina seperti Chen Ke (35 tahun), Chen Yufan (40), Chen Yujun (37), Li Qing (32), Liu Wei (43), Wei Jia (38), Yang Xun (32), Yuan Yuan (40), dan lainnya.

Mereka mengusung 35 karya berupa lukisan, patung, objek (benda, figur), maupun instalasi dengan kurator Rizki A. Zaelani dan Huang He. Helat Fang Gallery ini berlangsung di Gallery Nasional Indonesia (Galnas) sejak 20 Februari sampai 31 Maret 2013. Mereka tampil mengekspresikan kesadaran atas nilai eksistensi manusia dalam menghadapi aneka perubahan dalam melahirkan proses terbaru dan unik.

Kita seperti melihat munculnya kerangka nilai dalam proses perenungan abstraktif, dengan kilasan pengalaman sebagai bayangan-bayangan abstrak dalam menjelaskan sikap dan penghayatan mendasar. Sementara itu, dalam rangkaian realisme dimunculkan sejumlah penyampaian karikatural. Para seniman ini, menurut Rizki, berhasil menghadapkan keadaan kesadaran diri seseorang di hadapan cermin kehidupan dengan watak berbeda.

Seperti dibincangkan banyak pengamat, corak abstrak karya-karya Chen Yu Fan, Liu Wei, dan Wang Fenghua membuat lapisan-lapisan warna dan bentuk. Lapisan tersebut mengemukakan masalah yang menonjolkan ruang dan permukaan yang terasa memasuki perenungan dengan imaji-imaji interaktif. Sifat yang sangat pribadi itu disampaikan dalam konsep atau bentuk-bentuk simbolik untuk menceritakan sesuatu.

Terasa ada penghayatan yang menghadirkan hal tak terduga dalam menyampaikan ide-ide spesifik. Terutama pada karya monokromatik yang sarat dengan pengertian keseimbangan. Hal itu tak luput kita temukan pada karya tiga dimensional yang seolah memberikan deskripsi sosial yang lebih nyata. Lain lagi dengan karya Wei Jia yang menyeret sifat-sifat mitologi, amat sarat ilusi dan ekspresif.

Selain itu, pada sejumlah lukisan kaca, terasa getaran dan pantulan bayangan yang menyorotkan beberapa pengertian. Dari semua ini, tersirat pemahaman akan kehidupan yang lebih real dari balik sejumlah makna yang tersembunyi. Misalkan saja pada karya Liu Wei, seolah dibuat dengan kehalusan perasaan yang diwakili oleh alunan kuas yang amat akurat.

Berbeda dengan kreasi Wang Fenghua, walau bercorak potret yang realis toh masih memberi tanda serbaabstrak. Ia tampak kaya dengan permainan sinar yang saling memantul dan menyodorkan kontur nyata, meski masih bermain dengan bentuk-bentuk abstraksi. Paparan kuratorial yang disampaikan Rizki, 48 tahun, lebih menjelaskan atas semua gagasan perupa dari Negeri Tirai Bambu ini.

Rizki yang jebolan Departemen Seni Murni FSRD ITB (1992) dan banyak berkurator di beberapa pameran, sejak 2002 duduk sebagai anggota Dewan Kurator Galeri Nasional Indonesia.  Ia menyebutkan beberapa nama seperti Chen Yu Jun, Li Qing, Wei Jia, Yang Xun, Yuan Yuan, serta Liu Zhan dapat dipahami sebagai ekspresi realisme alegoris (allegorical realism).

Misalnya pada lukisan-lukisan berkarakter transparan karya Chen Yu Jun yang mengandung lapisan atmosfer bersifat mistis sekaligus arkaik, kadang mengandung gambaran narasi bersifat historis. Atau pada karya multimedia Li Qing yang menggabungkan kekuatan ekspresi dan teknologi gambar bergerak (moving picture). Disebut Rizki sebagai karya-karya nan sarat dengan pertanyaan tentang persoalan identitas ke-diri-an, sejarah penciptaan awal, serta makna tentang proses penciptaan dunia.

Sementara pada lukisan Yan Xun yang kuat pada pewarnaan seperti mengajak kita untuk menatap sesuatu yang lebih khusus dan penuh rahasia. Imaji akan bunga, misalnya, menurut Rizki merupakan gambaran pengalaman batin yang tak hanya bermakna sebagai dokumentasi pengetahuan, tetapi justru sebagai lapisan-lapisan dari catatan pengalaman artistik yang bersifat personal sekaligus mengandung nilai misteri.

Di pameran ini, beberapa dari mereka seperti mempunyai kecenderungan menampilkan karya berbeda, dibanding umumnya seni rupa Cina yang sudah dikenal selama ini. Model ciptaannya berbentuk karikatural, animasi, sampai instalasi. Rizki juga mengumpamakan karya Chen Ke menunjukkan semacam transformasi sosial-kultural yang kini dihayati masyarakat di Cina dalam gambaran yang bersifat ilustratif, naratif, sekaligus kartonal.

Meski memunculkan gagasan unik, toh pajangan para perupa yang berusia 30−42 tahun ini amat setia dengan teknik formal, sebagaimana kerap ditemukan pada karya-karya akademik. Rizki mengungkapkan, dengan cara berbeda-beda, mereka berhasil menghadapkan kesadaran diri. Dengan cara inilah setiap diri akan menyadari keadaan eksistensialnya. Artinya, telah muncul generasi baru seni rupa yang lebih spesifik. Inilah upaya Fang Gallery dalam menyajikan karya-karya inovatif dari beragam disiplin, baik itu lukisan, patung, instalasi, fotografi, video, dan media baru lainnya yang tersaji secara selektif.


Artikel Lainnya di Rubrik ini:

  • Tidak ada artikel lainnya di rubrik ini.






Berlangganan Sindo Weekly