Majalah Sindo Weekly
Berlangganan Sindo Weekly


Indonesia

NO. 32 TAHUN II, 10 - 16 OKTOBER 2013

KRI Klewang

Misteri Klewang Berlapis Karbon

Penulis: Irman Abdurrahman, Sukron Faisal
Misteri Klewang Berlapis Karbon

SENO S./ANTARA

S

atu unit kapal tunda (tugboat) terombang-ambing, seakan enggan menarik bangkai kapal cepat kawal rudal KRI Klewang-625. Angin di Selat Bali, Selasa pekan silam, bertiup ke utara, ke arah dermaga Pangkalan TNI AL di Desa Ketapang, Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi. Sementara itu, bangkai KRI Klewang hendak ditarik ke galangan kapal milik PT Lundin Industry Invest di Pantai Cacalan, Sukowidi, Kecamatan Kalipuro, atau 3 mil di sebelah selatan.

KRI Klewang-625 belum genap berusia sebulan. Diluncurkan 31 Agustus, kapal perang kelas KCR tercanggih di kawasan Asia Tenggara itu habis dilalap api pada 28 September, atau tiga hari sebelum diserahterimakan kepada TNI AL. Berbujet Rp114 miliar dan memakan waktu riset serta produksi tiga tahun, Klewang kini tinggallah bangkai. "Sekarang kami bawa ke galangan untuk dilakukan penyelidikan," kata Lizza Lundin, Direktur PT Lundin Industry Invest, pabrikan kapal.

Lizza menolak berkomentar lebih jauh mengenai penyebab kebakaran sebelum mengetahui hasil penyelidikan. Sebuah tim investigasi sudah dibentuk Lundin bersama TNI AL. Dia hanya memastikan Lundin siap mengganti Klewang yang terbakar dengan yang baru.

Namun, pemerintah belum tentu akan tetap memesan kapal kepada pabrikan yang sama. Hasil penyelidikan bakal menentukan nasib Lundin. Kepala Dinas Penerangan TNI AL Laksamana Muda Untung Suropati mengatakan pihaknya belum mengetahui kebijakan Kementerian Pertahanan.

"Dengan musibah ini, saya belum tahu bagaimana kebijakan pimpinan, apakah akan memesan dari pabrikan yang sama," kata Untung, Senin pekan ini.

Laksamana Muda Untung menambahkan kelanjutan proyek pengadaan empat kapal trimaran bersama Lundin akan ditentukan Menteri Pertahanan. Sesuai Peraturan Menteri Pertahanan No.34 Tahun 2011, TNI AL hanya bertanggung jawab dalam pengadaan satu trimaran. Sisanya akan ditangani Kemenhan.

"Meskipun nanti Menhan yang memutuskan, setidaknya beliau pasti akan mendengar masukan dari TNI AL," kata Untung.

Wakil Ketua Komisi I DPR Tubagus Hasanuddin juga mengatakan Dewan masih menunggu hasil investigasi yang akan dilaporkan Kemenhan dalam beberapa minggu ke depan. "Saya sangat berharap ini kecelakaan, bukan sabotase," katanya.

Untung mengakui insiden terbakarnya Klewang sedikit memengaruhi program pengadaan alutsista empat kapal jenis trimaran hingga 2024. Untuk memastikan target tak meleset, dia bilang akan ada sejumlah pertimbangan. Salah satunya soal material kapal. "Apakah akan tetap memakai serat karbon atau diganti baja, kami belum memutuskan."

Lundin mengklaim Klewang terbuat dari material komposit serat karbon. Jika benar, Untung mengatakan bahan itu, yang juga digunakan pada Boeing 777, tak mudah terbakar. Bahkan banyak pihak percaya bahan itu sanggup mereduksi percikan api hingga tekanan panas yang sangat tinggi. "Sampai sekarang kami belum pernah mendengar ada komplain terkait penggunaan bahan itu," papar Untung.

Meski tak ingin berspekulasi, Untung bilang pihaknya akan mencari tahu apakah serat karbon memiliki kelas-kelas tertentu dengan tingkat ketahanan terhadap api yang berbeda-beda. "Itu yang perlu kami ketahui," katanya.

Spekulasi pun beredar. Salah satunya mengatakan Lundin tak sepenuhnya menggunakan serat karbon. Campuran tertentu ditambahkan guna menekan biaya produksi.

SINDO Weekly berupaya memperoleh keterangan dari Lundin. Namun, tak satu pun pimpinan Lundin bersedia menjawab panggilan telepon. Seorang staf di ujung telepon mengatakan bos perusahaan yang bermerek dagang North Sea Boats itu sedang mengadakan rapat di luar kota.

KRI Klewang terbakar diduga karena tak sepenuhnya berbahan komposit serat karbon. Benarkah PT Lundin berupaya menekan biaya produksi?







Berlangganan Sindo Weekly