Majalah Sindo Weekly
Berlangganan Sindo Weekly


Indonesia

NO. 43-44 TAHUN I, 27 DESEMBER 2012 - 9 JANUARI 2013

Destry Damayanti (Kepala Ekonom Bank Mandiri)

Prospek Ekonomi Indonesia 2013

Prospek Ekonomi Indonesia 2013

Masalah klasik yang harus menjadi perhatian pemerintah adalah pembangunan infrastruktur untuk memperbaiki konektivitas di Indonesia. Pertumbuhan investasi yang pesat tanpa diimbangi dengan infrastruktur yang memadai hanya akan memicu terjadinya over-heating ekonomi sehingga dapat menciptakan ketidakstabilan makro.

 

Prudent macroeconomic policy and structural reforms over the last decade, on top of solid fundamentals, have placed Indonesia in a strong position to deal with continuing uncertainty in the global environment

(IMF report, September 2012)

P

ernyataan IMF di atas tidaklah berlebihan jika kita melihat pencapaian ekonomi Indonesia di tahun 2012. Hingga kuartal III-2012 perekonomian kita masih dapat tumbuh hingga 6,2% per tahun, di saat perekonomian negara lain mengalami perlambatan karena tekanan dari lemahnya perekonomian global. Tekanan ekonomi global ternyata memukul penerimaan ekspor mereka secara drastis.  Terlebih lagi di India, tekanan inflasi dan defisit anggaran yang tinggi, membatasi ruang gerak pemerintah dan Bank Sentral India untuk memberikan stimulus pada perekonomian mereka.  

Kondisi itu berbeda dengan Indonesia, yang tekanan inflasinya relatif rendah, dengan defisit anggaran yang diperkirakan 1,65% dari PDB di tahun 2013, sehingga Indonesia masih punya ruang gerak yang lebih besar seandainya perekonomian menunjukkan perlambatan yang signifikan. Terlebih lagi rasio utang pemerintah terhadap PDB terus mengalami penurunan menjadi 23% di tahun 2012 dari 39% di tahun 2006.

Kekuatan ekonomi domestik merupakan salah satu keunggulan Indonesia, yang didukung oleh konsumsi masyarakat dan investasi hingga 87% dari PDB. Kepercayaan investor asing terhadap Indonesia juga terus meningkat, bahkan  investasi asing di kuartal III-2012 mencapai Rp 57 triliun. Potensi yang dimiliki oleh Indonesia tak hanya sebagai market base tetapi juga sebagai production base. OECD memproyeksikan Indonesia akan menjadi negara terbesar ke-10 dunia pada tahun 2025. Jumlah penduduk yang besar, tumbuhnya kelompok masyarakat kelas menengah, dan cepatnya pertumbuhan daerah perkotaan merupakan sumber utama pertumbuhan ekonomi. Selain itu struktur demografi Indonesia yang sehat, yaitu terkonsentrasi pada usia produktif (15 tahun -60 tahun) memberikan nilai tambah tersendiri.

Pertanyaannya adalah apakah pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat bertahan di tahun mendatang dan bersifat sustainable? Beberapa hal yang perlu menjadi catatan dalam perekonomian kita saat ini, di antaranya adalah pertumbuhan investasi yang pesat ternyata harus diimbangi pula dengan pertumbuhan impor yang meningkat sejak akhir 2011, karena kurang siapnya industri hilir menyediakan bahan baku dan barang modal bagi kebutuhan impor. Sementara itu, tekanan pada ekspor makin kuat karena lemahnya pertumbuhan ekonomi Cina, India, dan Jepang. Plus merosotnya harga komoditi sehingga pertumbuhan ekspor menjadi negatif. Akibatnya sejak akhir tahun 2011 neraca perdagangan kita terus mengalami defisit, yang akhirnya menyebabkan terjadinya defisit neraca transaksi berjalan yang hingga kuartal III-2012  sebesar 2,4% dari PDB.

Dampaknya bisa kita rasakan pada nilai tukar yang hingga awal tahun sampai dengan Desember ini telah mengalami depresiasi 6,5% menjadi Rp 9.640 per US$. Beruntung kita masih mendapatkan arus modal masuk yang cukup deras sehingga secara keseluruhan neraca pembayaran kita masih mengalami surplus di kuartal III-2012, dan meningkatkan cadangan devisa BI menjadi US$ 111,3 milyar.
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah hasil survei dari World Economic Forum mengenai Global Competitiveness Index (GCI) yang menempatkan Indonesia pada peringkat ke-50 dari 144 negara. Dari hasil kajian ini terlihat bahwa Indonesia sangat lemah dalam hal efisiensi dan ketersediaan prasarana dasar. Minimnya infrastruktur, lemahnya institusi dan birokrasi serta rendahnya tingkat pendidikan di Indonesia menjadi faktor utama rendahnya daya saing Indonesia. Sementara itu Indonesia memiliki daya saing yang relatif baik di bidang fundamental makroekonomi dan pasar domestik. Hasil ini perlu menjadi perhatian bersama karena saat ini kita menghadapi persaingan yang sangat ketat dengan negara lain, bukan hanya di pasar eksternal namun juga di pasar domestik. Serbuan barang-barang impor di pasar domestik makin terasa, terlebih lagi menjelang diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) di tahun 2015.
 
Dalam konteks MEA, sudah seharusnya Indonesia mempunyai daya tawar yang tinggi, karena besarnya ekonomi Indonesia adalah 39% dari total ekonomi ASEAN. OECD memperkirakan rata-rata pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk periode 2013-2017 mencapai sekitar 6,4%, lebih besar ketimbang negara ASEAN lainnya. Sebagai contoh Filipina 5,4%, Malaysia dan Thailand 5,1%. Namun demikian, sangat disayangkan karena kenyataannya neraca perdagangan luar negeri Indonesia dengan ASEAN sejak 2005 justru mengalami defisit, dan bahkan makin membesar defisitnya di tahun 2011, mencapai sekitar US$ 10 milyar.

Untuk mendapatkan pertumbuhan yang sustainable maka Indonesia harus siap menghadapi sejumlah tantangan. Pencapaian makroekonomi yang telah baik ini jangan membuat kita semua terlena. Banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, baik dari sisi pemerintahan, pelaku bisnis maupun masyarakat Indonesia secara keseluruhan. Beberapa potensi yang dimiliki oleh Indonesia, jika tidak dimanfaatkan secara benar, justru akan menjadi masalah bagi Indonesia di masa mendatang. Bonus demografi yang dimiliki oleh Indonesia jika tidak diimbangi dengan peningkatan pendidikan, produktifitas dan sekaligus penciptaan lapangan kerja yang memadai hanya akan mendorong tingginya angka pengangguran. Data angkatan tenaga kerja kita yang  saat ini berjumlah 112 juta jiwa menunjukkan bahwa 67%-nya berpendidikan SMP ke bawah, sehingga berpengaruh pada kualitas. Penanganan masalah demo buruh juga menjadi penting jangan sampai merusak kepercayaan investor.

Akhirnya masalah klasik yang harus menjadi perhatian pemerintah adalah pembangunan infrastruktur untuk memperbaiki konektivitas di Indonesia. Pertumbuhan investasi yang pesat tanpa diimbangi dengan infrastruktur yang memadai hanya akan memicu terjadinya over-heating ekonomi sehingga dapat menciptakan ketidakstabilan makro. Pembebasan lahan ke depannya harus menjadi perhatian pemerintah sehingga akselerasi pembangunan infrastruktur dapat mulai direalisasikan di tahun 2013.

Terlepas dari berbagai tantangan tersebut di atas, apabila dapat ditangani dengan baik oleh kita semua dan disertai dengan pemanfaatan segala potensi yang dimiliki oleh Indonesia, maka ruang bagi perekonomian Indonesia untuk tumbuh masih cukup besar. Namun tentunya kondisi ini harus pula ditopang oleh prilaku masyarakat yang menjunjung tinggi demokratisasi. Untuk tahun 2013 ekonomi diperkirakan masih dapat tumbuh hingga 6,5% dengan tingkat inflasi yang terkendali di tingkat 5% -5,5% dengan suku bunga BI Rate yang tetap di tingkat 5,75% dan nilai tukar Rupiah rata-rata berada di sekitar 9.500-9.600.







Berlangganan Sindo Weekly