Majalah Sindo Weekly
Berlangganan Sindo Weekly


Global

NO. 48 TAHUN II, 30 JANUARI - 5 FEBRUARI 2014

Mesir

Keadaan Darurat karena Kelompok Bertopeng

Penulis: Nusantara Mulkan
Keadaan Darurat karena Kelompok Bertopeng

ANTARA/REUTERS/ASMAA WAGUIH

Sebuah vonis pengadilan di Mesir telah memicu kerusuhan massal di sejumlah kota. Presiden Muhammad Mursi pun harus menyatakan keadaan darurat. Sekelompok pemuda bertopeng kini tengah menjadi sorotan.

N

EGERI Piramida itu seolah tak henti-hentinya dilanda kekacauan setelah Husni Mubarak terguling dari kursi  presiden dua tahun silam. Hingga Senin (28/1), seperti dilansir Ahram Online, kerusuhan masih melanda di seputar kawasan Lapangan Tahrir, Kairo. Seorang pejalan kaki yang tidak disebutkan namanya, dilaporkan terkena tembakan di bagian dada hingga tewas.

Lapangan Tahrir yang melegenda karena menjadi pusat perlawanan terhadap Mubarak, sebenarnya bukan awal terjadinya kerusuhan. Justru bermula dari Port Said. Saat itu, 26 Januari, Pengadilan Kairo menjatuhkan vonis mati kepada 21 terdakwa kasus kerusuhan suporter sepak bola antara kesebelasan Al-Masry (Port Said) dengan Al-Ahly (Kairo), yang menewaskan 74 orang pada Februari 2012.

Massa yang tidak puas dengan keputusan itu berupaya membobol penjara dan menyerang kantor polisi. Para suporter fanatik dari kedua tim, yang lebih dikenal dengan sebutan Ultras, menuduh polisi juga bertanggung jawab atas jatuhnya korban jiwa di Port Said. Mereka juga mengkritik Presiden Mesir Muhammad Mursi yang dituding tidak mereformasi kepolisian. Sedikitnya 42 orang tewas dalam kerusuhan hingga 27 Januari.

Hanya beberapa saat setelah vonis dijatuhkan, dua polisi tewas tertembak di luar gedung penjara utama Port Said. Sementara kerabat para terdakwa yang marah menyerbu bangunan itu untuk membebaskan para terdakwa. Hal ini memicu polisi menembakkan gas air mata, peluru karet, hingga peluru tajam ke arah kerumunan massa di depan penjara.

Sementara pendukung Al-Ahly menyatakan akan lebih banyak kekerasan jika para terdakwa tidak dijatuhi hukuman mati. Bahkan, beberapa hari menjelang vonis dijatuhkan, mereka memperingatkan akan terjadi pertumpahan darah dan pembalasan. Kerusuhan yang terjadi di Port Said menyulut amarah warga di kota-kota lain.

Di sisi lain, warga Kairo menuding aparat keamanan sengaja membiarkan terjadinya keributan maut itu. Sehingga, kerusuhan menjalar ke Suez dan 12 kota besar lainnya yang merupakan basis Al-Ahly. Ratusan suporter Al-Ahly pun berkumpul di gelanggang olahraga Kairo sambil menyerukan kecaman terhadap pemerintah dan kepolisian. "Kini saya ingin melihat sendiri orang-orang itu dieksekusi, seperti mereka melihat anak saya terbunuh," ujar Nour al-Sabah, seorang warga Kairo yang kehilangan putranya, Ahmed Zakaria, dalam kerusuhan sepak bola itu.
 
Pendukung Al-Ahly sempat mengancam akan melancarkan serangan balasan kepada suporter Al-Masry jika Pengadilan Kairo tak menjatuhkan vonis setimpal. Sejak awal sidang, mereka menuntut para pendukung Al-Masry yang terbukti menyerang dan melakukan pembunuhan agar dihukum mati. Di Mesir, hukuman mati biasanya dilakukan dengan cara digantung.

Hingga kini, tercatat 42 korban tewas dalam peristiwa kerusuhan yang terjadi di sejumlah kota di Mesir. Sementara lebih dari 460 orang dilaporkan mengalami luka-luka. Kondisi ini dianggap Amerika Serikat (AS) dan Inggris tidak kondusif, sehingga mereka memutuskan untuk menutup kantor kedutaan besarnya di Kairo.

Presiden Mursi pun menyatakan keadaan darurat di tiga provinsi: Port Said, Suez, dan Ismailiya. Keadaan darurat ini akan diberlakukan selama 30 hari terhitung sejak 27 Januari malam. Dengan adanya penetapan keadaan darurat ini, maka jam malam akan diberlakukan di ketiga provinsi tersebut. Berlaku mulai pukul 21.00 waktu setempat hingga pukul 06.00 setiap harinya.

"Saya sudah menyatakan menentang setiap tindakan darurat. Namun, saya juga telah menyatakan jika saya harus menghentikan pertumpahan darah dan melindungi rakyat, maka saya akan bertindak," tegas Mursi saat mengumumkan hal itu, seperti dilansir AFP.

Mursi pun langsung meminta pihak oposisi dan para pemimpin politik di Mesir untuk berdialog. "Tidak ada jalan kembali dalam kebebasan dan demokrasi. Penegakan hukum dan keadilan sosial telah dirintis revolusi," ucapnya. Namun, pihak oposisi Mesir balik mengancam akan memboikot pemilihan parlemen mendatang. Apalagi jika mereka menilai Mursi tidak menemukan penyelesaian menyeluruh atas krisis yang melanda negara itu.

Kelompok Bertopeng

Sebelum kerusuhan terjadi pun, massa oposisi sebenarnya telah turun ke jalan sejak 24 Januari. Mereka menuding Mursi dan koalisi kelompok Islam telah mengkhianati revolusi yang menggulingkan kekuasaan Mubarak.

Unjuk rasa yang awalnya untuk memperingati kejatuhan Mubarak itu secara bergelombang terjadi. Hingga kemudian dipicu kerusuhan yang terjadi di Port Said. Pengunjuk rasa di Kairo bahkan sempat memblokir Jembatan 6 Oktober, sebuah jembatan layang yang menghubungkan timur dan barat kota Kairo, juga membakar sejumlah mobil di jalan.

Pada saat yang hampir bersamaan, polisi terlibat bentrok dengan ratusan demonstran berpenutup wajah di sepanjang jalan pinggiran Sungai Nil. Di sebuah jembatan, mereka melempari polisi anti-huru-hara yang menembakkan gas air mata untuk memaksa para demonstran mundur dan kembali ke Tahrir Square.

Nah, kelompok yang menamakan dirinya Black Bloc inilah yang kemudian menjadi perbincangan kelompok pro-Mursi. Saat malam ulang tahun kedua revolusi 25 Januari, kelompok bertopeng itu bersumpah untuk melawan Ikhwanul Muslimin dan ditampilkan dalam beberapa hotspot pada 26 Januari. Kelompok ini dalam aksi-aksi yang dilakukannya terlihat begitu terorganisasi dengan baik. Dalam serangan ke Istana Kepresidenan Mesir, mereka menggunakan alat-alat yang terhitung canggih untuk menciptakan kebakaran, namun aksi mereka berhasil digagalkan polisi.

Bagi masyarakat Barat, Black Bloc adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan taktik yang umum digunakan oleh kelompok anarkis dan antikapitalis. Namun, belum diketahui apakah kelompok di Mesir itu berhubungan dengan Black Bloc yang di Amerika ataupun Eropa. Walaupun begitu, situs anarchistnews.org terus melaporkan perkembangan kerusuhan di Kairo.

Menurut Ibrahim al-Darawi, analis dan politisi Mesir, seperti dilansir IRIB, kelompok baru itu dikendalikan dari sebuah pusat militer yang terletak di Gurun Negev. "Mereka di bawah kendali seorang pejabat intelijen serta sekelompok psikolog Israel," ujarnya. "Dipersiapkan sebagai tempat pelatihan operasi-operasi anarkisme dan bagaimana menghimpun massa," imbuhnya.
 
Sebagian negara Arab, menurut IRIB, ditengarai membantu kelompok ini. Mereka kemungkinan dikendalikan oleh pengikut Husni Mubarak yang lari ke Uni Emirat Arab. Entah benar atau tidak, yang jelas Black Boc memang kelompok baru di Mesir.







Berlangganan Sindo Weekly