Majalah Sindo Weekly
Berlangganan Sindo Weekly


Q and A

NO. 6 TAHUN II, 11 - 17 APRIL 2013

Ilham Akbar Habibie, Presiden Direktur PT Ilthabi Rekatama:

Kami Benar-benar Membuat Pesawat Baru

Kami Benar-benar Membuat Pesawat Baru

ILUSTRASI: SINDOWEEKLY/ADI WICAKSONO

Ini pesawat tahun 2013. Sungguh berbeda dengan pesawat N-250 yang secara politis dipaksakan berhenti melalui penandatanganan MoU dengan IMF

B

ELASAN tahun lalu, sekitar 1998, bangsa Indonesia hampir saja memiliki pesawat buatan anak negeri sendiri, yakni N-250 yang dirancang B.J. Habibie. Tapi, akibat ikut terseret arus politik, pesawat berjuluk Gatotkaca yang sudah melalui berbagai perjuangan dan kerja keras itu dipaksa untuk dihentikan oleh International Monetary Fund (IMF).

Kini, impian yang kandas tersebut kembali dihidupkan oleh anak perancangnya kala itu, Ilham Akbar Habibie. Dia bertekad mewujudkan mimpi sang ayah dan bangsa Indonesia yang ingin memproduksi pesawat sipil. Ilham harus pontang-panting meneruskan impian ayahnya dalam memajukan industri penerbangan Tanah Air. Dia juga harus meyakinkan berbagai pihak bahwa pesawat itu akan bisa bersaing dengan pesatnya teknologi dewasa ini.

Namun, Bos Grup Ilthabi Rekatama ini menolak kalau pesawat tersebut merupakan proyek lanjutan. Meski ada beberapa kesamaan, menurutnya, detail dan teknologi yang digunakan kedua jenis pesawat itu berbeda.

Kepada Ranap Simanjuntak dari SINDO Weekly, Ilham mengaku sibuk bukan kepalang gara-gara mengurusi proyek baru ini. "Iya hampir saja kerjaan saya di perusahaan terbengkalai karena mengurus pembuatan pesawat ini," kata Ilham di kantornya, Senin awal pekan ini.

Apa yang membuat Anda tertarik membuat pesawat seperti ayah Anda dulu?

Itu berawal dari keinginan membuat pesawat Indonesia yang dikembangkan sendiri. Jadi, pesawat yang sedang kita kembangkan mengacu pengalaman yang pernah dimiliki bersama melalui IPTN (Industri Pesawat Terbang Nusantara) yang sekarang bernama PT Dirgantara Indonesia (DI). Pesawat itu dikenal dengan sebutan N-250.

Jadi ini proyek lanjutan?

Ini bukan melanjutkan. Tapi membuat baru karena tidak memakai bahan yang lama. Yang dilanjutkan itu semangatnya, bukan proyeknya. Jadi, ini bukan yang dulu dikembangkan, pernah berhenti, kemudian dilanjutkan. Sama sekali berbeda.

Pesawat yang sedang dikembangkan saat ini adalah R-80 yang dari segi bentuk dan teknologi memang ada kemiripan. Tapi, terus terang lebih banyak ketidakmiripannya. Sebagai contoh, pesawat N-250 penumpangnya 68 orang, sedangkan yang dikembangkan ini 80 penumpang. N-250 dulu menggunakan teknologi elektronik 1998, dengan jeda waktu 15 tahun maka teknologinya tentu berbeda pula. Dalam teknologi elektronik ini memang ada hubungan. Sekilas memang terlihat serupa, tapi beda. Sama kalau melihat Airbus 320 dengan 737 yang tampak mirip. Tapi kalau melihat detailnya pasti berbeda.

Jadi kami mengacu pada pengalaman sebagai keuntungan bersama. Sebab, tanpa pengalaman, tidak ada orang di Indonesia yang bisa mendesain pesawat seperti ini. Kalau didatangkan dari luar, maka biayanya bisa mahal sekali. Itulah kurang lebih posisi kami.

Sekali lagi, ini pesawat tahun 2013. Sungguh berbeda dengan pesawat N-250 yang secara politis dipaksakan berhenti melalui penandatanganan MoU dengan IMF. Memang sebagian besar pekerja di tim kami adalah yang punya pengalaman dengan N-250.

Teknologi apa yang baru dari R-80 ini?

Pesawat itu kan ada badan, sayap, mesin, kokpit, kaki atau dinamakan landing gear, kemudian sistem yang menyambungkan pilot untuk bergerak. Nah, R-80 ini lebih besar karena berkapasitas 80 penumpang. Artinya, karena lebih besar dan lebih berat, maka sayapnya pun harus lebih besar juga. Karena sayap untuk membuat gaya angkat.

Nah, untuk mengangkat itu perlu engine. Tentu saja engine ini harus lebih kuat. Dalam 15 tahun, perkembangan teknologi engine itu sudah banyak berubah. Jadi, badannya lebih panjang, sayapnya lebih gede, dan engine lebih kuat. Bukan engine yang dulu. Lalu landing gear juga harus lebih kuat dan besar. Itu semua sudah beda.

Selanjutnya masuk ke kokpit. Kalau pada 1998 dulu, seingat saya untuk N-250 itu kayak televisi zaman dulu yang masih ukuran besar. Sekarang kan tidak lagi, sudah pakai flat screen semua. Lalu, sudah pakai computer chip untuk sistem pengendali. Tapi teknologi yang benar-benar baru itu avionik dan fly control system.

Apa keunggulan dari pesawat ini dibanding pesawat sejenis produksi pihak lain?

Harga minyak saat ini jauh lebih mahal daripada 1998. Nah, keperluan airlines sekarang itu mempunyai pesawat terbang yang irit bahan bakar. Kalau airlines, khususnya untuk jarak pendek, operating cost itu 50 persennya adalah bahan bakar. Nah, pesawat ini diperuntukkan jarak pendek, yaitu penerbangan berjarak di bawah 500 km. Sebab, untuk jarak penerbangan pendek itu kalau terbang dengan jet akan boros sekali. Apalagi, jet itu besar sehingga tak bisa landing di airport yang landasannya pendek. Ini yang menjadi keunggulan R-80, hemat bahan bakar dan dapat landing di berbagai bandara kita yang kecil.

Pembuatannya akan bekerja sama dengan siapa saja?

Kami tidak tergantung dengan itu. Tentu lebih baik kalau kita punya mitra untuk memasarkan di luar. Sejauh ini kami sudah berbicara dengan beberapa pihak. Tapi, saya belum berani mengatakan pihaknya siapa saja. Kalau belum yakin, saya mending tidak ngomong dulu.

Seandainya tidak ada mitra, saya kira dari segi kemampuan kami bisa. Tapi dari segi marketing mungkin memang akan lebih menekankan buat kita sendiri. Ya paling tidak untuk negara-negara sekitar Indonesia di ASEAN, karena situasi dan kondisinya kurang lebih sama.

Setelah bertemu berbagai pihak di dalam dan luar negeri, bagaimana respons mereka?

Terus terang tanggapan di masyarakat semuanya positif. Belum pernah saya ketemu orang yang tidak suka dengan ide membuat pesawat ini. Apalagi pesaing pasarnya untuk pesawat baling-baling ini tidak banyak. Saat ini yang serius mengemas pesawat baling-baling paling hanya dua, yaitu dari Perancis-Italia dan Kanada. Dan, yang benar-benar bersaing dengan kita karena spesifikasinya mirip itu ATF. Itu juga jenisnya ada banyak.

Membuat pesawat tentu membutuhkan modal banyak, bagaimana Anda memenuhinya?

Saat ini kami hanya membutuhkan modal sedikit, yaitu sekitar US$4 juta. Dana itu digunakan untuk mendesain sampai akhir tahun ini. Dananya berasal dari kami saja, mandiri.

Bagaimana dengan dukungan ayah Anda, B.J. Habibie?

Ya, ayah saya sangat mendukung. Beliau juga salah seorang tokoh teknologi yang membuat pesawat, yang sekaligus membuat saya seperti ini. Dari beliaulah saya kemudian membuat beberapa langkah yang akhirnya mendapat dana dari Islamic Bank.

Dukungan dari PTDI sendiri seperti apa?

Ya, sejauh ini baik. PTDI pernah mengatakan menyambut baik niat ini dan akan bergabung. Dengan keberadaan PTDI, kita masih menjadi negara yang paling unggul untuk membuat pesawat dibandingkan negara-negara ASEAN. Misalnya kalau Malaysia itu hanya bisa membuat bagian-bagian pesawat atau subkontraktor, Indonesia bisa membuat pesawat utuh dan kita punya pabrik pembuatan pesawat di bawah PTDI. Contohnya ada banyak, yaitu CN235, 2212, atau N-250. CN235 itu dalam bentuk joint venture, 2212 itu pesawat untuk lisensi. Apalagi, kita punya market khususnya di dalam negeri, kemampuan kita lengkap.

Apakah perusahaan Anda akan menjadi pesaing atau mitra PTDI?

Jadi kita buat perusahaan ini bukan untuk bersaing dengan PTDI, melainkan melakukan kerja sama. PTDI punya infrastruktur seperti hanggar atau lainnya. Bentuk kerja samanya mungkin PT DI tidak dalam bentuk dana tapi bisa digunakan dalam bentuk lainnya.

Hingga saat ini sudah sampai mana perkembangan proyek R-80 ini?

Ya masih baru. Paling kalau bisa saya katakan sekitar 10 persen saja. Tahap pertama pembuatan desain. Tapi ini sangat krusial, karena kalau salah nanti akan repot semua.

Jadi finalnya kapan?

Ya targetnya pada 2018 atau makan waktu lima tahun. Kalau untuk pembuatan prototipe itu mungkin pada tahun keempat atau 2017.

 

Ilmuwan yang Aktif Berorganisasi

LELAKI bernama lengkap Ilham Akbar Habibie yang lahir pada 16 Mei, 49 tahun silam di Aachen, Jerman, ini merupakan putra sulung mantan Presiden RI B.J. Habibie. Sekilas wajahnya mirip dengan ayahnya, hanya sedikit lebih tinggi.

Namun, Ilham merupakan sosok yang tak manja. Sedari kecil dia sudah mengerti arti pentingnya ilmu pengetahuan, sehingga selalu menyempatkan diri untuk membaca. Tak heran jika hobinya melalap buku mengantarkannya meraih beberapa gelar bergengsi. Seperti gelar Ph.D dengan predikat summa cum laude dari Technical University of Munich, Jerman; dan MBA dari Universitas Chicago, Singapore Campus.

Ayah tiga anak ini pernah mengemban jabatan strategis di PT DI, mulai dari Asisten Presiden Direktur untuk proyek N-2130 Regional Jet Program hingga jabatan Direktur Marketing.

Sayangnya, akibat krisis moneter 1998, atas desakan IMF, proyek-proyek di bawah naungan IPTN pun terpaksa dihentikan. Termasuk proyek pesawat N-250. Padahal, kala itu Ilham sedang fokus melakukan riset untuk menambah jumlah portofolio pesawat terbang buatan anak bangsa.

Penyuka olahraga renang dan golf ini pun mengurusi perusahaan keluarga di bawah naungan Grup Ilthabi Rekatama sejak 2002. Dengan tangan dinginnya, perusahaan ini menggurita. Setidaknya, empat bidang bisnis seperti teknologi informasi, industri manufaktur, industri sumber daya alam, dan jasa keuangan berhasil dia kembangkan.

Salah seorang Direktur The Habibie Center ini juga aktif dalam organisasi, dari bidang pendidikan sampai olahraga. Ilham tergabung dalam Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia se-Indonesia (ICMI) dan pernah menjabat Kepala Presidium. Dia juga pengurus Perhimpunan Alumni Jerman, Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI), Persatuan Insinyur Indonesia, The Habibie Foundation, KADIN, Yayasan Pembangunan Teknologi Indonesia dari Institut Teknologi Indonesia, Komite Inovasi Nasional, hingga Wakil Bendahara Persatuan Bola Voli Seluruh Indonesia.

Di sisi lain, Ilham juga menyabet beberapa penghargaan bergengsi. Pada 1997, dia mendapat penghargaan Satyalancana Wira Karya dan Adikarsa Pemuda. Kemudian pada 2009, AFEO Honorary Fellow dari Federasi Organisasi Mesin ASEAN.

Lewat pembentukan PT Regio Aviasi Industri (RAI) bersama Erry Firmansyah, ia berhasrat menghidupkan kembali teknologi pesawat terbang Indonesia. Caranya dengan membuat pesawat Regio Prop. "Perusahaan swasta ini dibuat karena melihat kemampuan pemerintah dalam pembuatan pesawat terbatas. Daripada merongrong pemerintah terus, lebih baik jalan sendiri," ungkap salah satu politisi Partai Golkar ini.


Artikel Lainnya di Rubrik ini:

  • Tidak ada artikel lainnya di rubrik ini.






Berlangganan Sindo Weekly