Majalah Sindo Weekly
ESET NOD32 ANTIVIRUS


Highlight

NO. 7 TAHUN II, 18 - 24 APRIL 2013

BRICS, Sekutu atau Saingan?

Penulis: Bona Ventura
BRICS, Sekutu atau Saingan?

Dengan seperlima PDB dunia, sejatinya BRICS menjadi penyeimbang dominasi Barat selama ini. Tapi, kelima negara belum bisa meramu otot global menjadi kekuatan kolektif. KTT BRICS 2013 pun batal membentuk Bank Pembangunan, saingan Bank Dunia dan IMF milik AS dan Uni Eropa.

K

etika tiba di Durban, Afrika Selatan, penghujung Maret lalu, Presiden Rusia Vladimir Putin teringat dengan lima binatang terkuat di Afrika. Yaitu singa, gajah, banteng, macan tutul, dan badak. Kelima hewan predator tersebut membentuk keseimbangan ekosistem di tengah kerasnya sabana. Di sisi lain, semua saling berburu merebut podium. Putin lalu mewanti-wanti dengan membandingkannya dengan lima negara BRICS, yang sedang melakukan konferensi tingkat tinggi alias KTT selama 25−26 Maret 2013. "Apakah BRICS dapat menjadi kekuatan kolektif untuk mengarahkan suara mereka di dunia atau saling berburu di panggung global?" pesannya, seperti dilansir Reuters.

Satu dekade terakhir, BRICS (Brasilia, Rusia, India, Cina, dan Afrika Selatan) menjadi perbincangan dunia. Mereka mencatat pertumbuhan ekonomi yang luar biasa. Antara 2003 sampai 2008, negara-negara itu tumbuh rata-rata delapan persen per tahun. Ketika krisis keuangan melanda dunia, negara BRICS tampil mendongkrak perekonomian global dan mencegah dunia terpuruk ke dalam depresi ekonomi. Mereka menguasai 17 persen perdagangan internasional dan mendominasi 25 persen dari Pendapatan Domestik Bruto (PDB) global alias seperlima jagat ini.

Goldman Sachs mengatakan dengan populasi lebih dari 40 persen penduduk dunia dan pertumbuhan ekonominya, populasi kelas menengah negara BRICS akan lebih dari dua kali lipat ekonomi G-7 (negara maju) selama ini (lihat tabel).

Kelompok ini lahir dari catatan seorang bankir Goldman Sachs, Terrence James O'Neill pada 2001. Awalnya bernama BRIC, kemudian tambah S usai Afrika Selatan bergabung pada 2010. James, pria asal Manchester, Inggris, itu mengatakan dalam kurun 10−20 tahun mendatang, BRICS akan melampaui kekayaan negara maju, notabene Amerika Serikat dan Uni Eropa, sebagai kekuatan ekonomi. James berujar mereka akan berbagi rasa karena lembaga yang didirikan Barat mengabaikan kepentingan mereka. Sehingga anggota BRICS bergabung untuk mengimbangi dominasi Barat.

Hanya saja dalam membentuk "Paradigma Baru" itu terdapat sejumlah perbedaan. Mulai dari sistem politik masing-masing negara hingga kondisi perekonomian terkini. Di antaranya Cina, yang kini memasuki fase normalisasi dengan pertumbuhan ekonomi enam sampai delapan persen. Lantas, bagaimana dengan anggota lainnya? Dirk Messner, Direktur Institut Jerman untuk Politik Pembangunan, bilang Brasilia masih positif. Sebab negara sepak bola itu sukses mengawinkan perkembangan industri dengan kekayaan sumber daya alam. Begitu pula dengan perekonomian India.

Untuk Rusia, pandangan Messner agak skeptis. Negara Beruang Merah tersebut lebih diuntungkan oleh eksploitasi besar-besaran sumber daya alamnya. Mereka tidak memiliki industri yang berarti. Sehingga saat terjadi penurunan permintaan negara Uni Eropa terhadap minyak dan gas bumi, ekspor Rusia menjadi terganggu. "Posisi Afrika Selatan sulit karena situasi di kawasan sekitarnya tidak stabil. Jadi kita tidak bisa membandingkan Afrika Selatan dengan Cina atau India," sahut Messner kepada Deutsche Welle. Ya, kondisi anggota kelompok BRICS memang sangat berbeda satu sama lain.

Segenap perbedaan di atas coba untuk diblender dalam KTT BRICS ke-5 di Durban, Afrika Selatan, sebagai kelanjutan dari pertemuan New Delhi pada 2012. Yaitu menyiapkan lembaga pendanaan anyar, sebuah Bank Pembangunan. "Jadi kami memutuskan mendirikan Bank BRIC berdasarkan kebutuhan kita, yang jumlahnya berkisar US$4,5 triliun selama lima tahun mendatang," ujar tuan rumah, Presiden Afrika Selatan, Jacob Zuma. Bank Pembangunan ini bertujuan untuk bekerja sama di masa depan dengan pasar negara berkembang lainnya serta negara-negara dunia ketiga.

Masing-masing negara diajak patungan US$10 miliar sebagai dana awal. Selain itu, pembentukan cadangan devisa sebesar US$240 juta. Kelak dana sebesar ini akan menjadi dana tanggap darurat andai krisis keuangan menimpa BRICS. Bank Pembangunan BRICS bertujuan menjadi alternatif di tengah dominasi Bank Dunia bentukan Amerika Serikat (AS) dan Dana Moneter Internasional (IMF), wahana keuangan milik Uni Eropa.

Bukan Sekutu Alami

Alih-alih menyaingi dominasi Barat yang telah berlangsung 70 tahun, KTT BRICS 2013 justru menyemburkan kerikil tajam antara anggotanya. Al-Jazeera mengatakan kerikil yang mengganjal cukup substansial. Cina, misalnya, menginginkan kantor pusat Bank Pembangunan BRICS berada di negaranya. Tapi Presiden Afrika Selatan, Zuma, juga menginginkan hal serupa. Kemudian, soal besarnya kontribusi masing-masing negara terhadap modal buat operasional bank. Para menteri keuangan negara BRICS berujar seharusnya kontribusi berdasarkan pada kekayaan negara masing-masing, bukan dibagi rata antara lima negara.

Keraguan bertambah setelah ada tudingan Cina, dengan perekonomian terbesar kedua dunia, akan menjadi dominan dalam BRICS. Seperti halnya AS dan Uni Eropa yang menguasai Bank Dunia dan IMF. Padahal BRICS menekankan pada kemitraan yang setara. Apalagi negara BRICS lainnya menuduh negara ini melakukan dumping dalam perdagangannya. Rusia yang memberlakukan restriksi impor ketat bagi produk pertanian juga memperoleh kritik dari Brasil. Rusia sendiri berambisi menjadi pengekspor produk agraria dan dengan begitu menjadi pesaing langsung Brasil.

Messner pun mengatakan kerja sama erat antara negara BRICS tidak semudah dibayangkan. Ekonomi kelima negara itu tidak saling melengkapi, karena itu BRICS tidak saling menopang. "Pasar utama bagi Cina adalah negara Asia dan industri Brasilia berorientasi pada kebutuhan negara Amerika Latin." Tambahan lagi, anggota BRICS memiliki sistem politik yang berbeda sehingga menyulitkan pembentukan satu blok.

Martyn Davies, Chief Executive dari Frontier, konsultan pasar negara berkembang yang berbasis di Johannesburg, mengatakan BRICS adalah retorika geopolitik tanpa didukung substansi. "Sama seperti singa, gajah, dan badak. Tidak sekutu alami," ujarnya kepada Reuters. Dan apa yang diperingatkan oleh Putin sehari sebelumnya sangat jelas, apakah BRICS dapat menjalankan tugas sebagai kawanan untuk mengarahkan suara mereka atau saling berburu di panggung global.

Tidak ada kesamaan politik anggota BRICS. Tidak mengherankan pula KTT BRICS 2013 tidak membawa hasil signifikan. Messner mengatakan satu-satunya hasil yang berarti dari KTT BRICS adalah kesadaran politik bahwa ekonomi dunia tidak lagi hanya mencakup negara industri Barat.

 

INFOGRAFIS HIGLIGHT 1
 

Artikel Lainnya di Rubrik ini:







ESET NOD32 ANTIVIRUS