Majalah Sindo Weekly
Berlangganan Sindo Weekly


Business & Economy

NO. 10 TAHUN II, 9 - 15 MEI 2013

Proyek Mencabut Kumis Harimau

Penulis: I. Husni Isnaini dan Junaidi P. Hasibuan
Proyek Mencabut Kumis Harimau

FAJAR AMBYA/ANTARA

Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo, akhirnya meresmikan proyek Mass Rapid Transit atau MRT. Pembangunan transportasi massal berbasis rel yang mampu mengangkut penumpang hingga 412 ribu per hari ini bak mencabut kumis harimau. Benarkah?

K

AMIS 2 Mei 2013 menjadi hari bersejarah buat Ibu Kota. Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo, meresmikan proyek MRT. Proyek bernilai triliunan ini digelar amat sederhana di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat. Acara peluncuran dilakukan di atas sebuah panggung dadakan berukuran 5 meter x 3 meter dan tinggi 50 sentimeter. Sehelai spanduk berukuran sedang bertuliskan "MRT Jakarta Dimulai. Lebak Bulus–Bundaran HI (FASE 1)" menjadi latar belakang panggung itu. Air mancur Bundaran HI menjadi penghias di belakang panggung.

"Setelah ditunggu dan direncanakan selama 24 tahun, dengan seizin Tuhan, pada sore hari ini saya nyatakan pembangunan MRT Jakarta dimulai," kata Jokowi tanpa ekspresi. Ia lalu memukul gong lima kali.

Selain penabuhan gong, acara peluncuran yang dimulai pukul 17.00, juga ditandai pembacaan doa. Hadir dalam acara itu seluruh jajaran komisaris dan direksi PT MRT Jakarta serta Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta. Selebihnya, tidak ada undangan lain di acara itu. Jokowi memberikan penjelasan atas konsep MRT yang dicetak pada selembar kertas. Acara berlangsung sekitar 30 menit tanpa ada sambutan dan perayaan khusus. Warga yang menyaksikan juga tidak banyak. Arus lalu lintas sempat ditutup sementara waktu, tetapi tidak terjadi kemacetan parah. "Yang penting itu pembangunannya, peluncurannya biasa saja enggak apa-apa," katanya seusai meluncurkan pembangunan MRT di lokasi tersebut.

Proyek pembangunan tahap satu ini berjarak 5,9 km, dari total sepanjang 15,7 km menelan biaya 125 miliar yen. Tahap pertama ini akan dikerjakan dalam tiga paket. Paket satu dan dua akan dikerjakan konsorsium gabungan perusahaan Jepang dan perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), yaitu Shimizu Obayashi, Wijaya Karya, dan Jaya Construction Joint Venture. Sementara, Sumitomo Mitsui Construction Company (SMCC) dan Hutama Karya Joint Operation dipilih untuk satu paket sisanya.

PT Wijaya Karya Tbk. menargetkan konstruksi proyek MRT ini sudah bisa dikerjakan Agustus atau pertengahan 2013. Sekretaris Wika, Natal Argawan, mengatakan saat ini sedang menyelesaikan masalah administrasi proyek. "Selain itu, kami sedang menyusun detail engineering design (DED)," kata Argawan. DED tersebut dibuat berdasarkan studi kelayakan oleh JICA. Isinya mengenai detail bagaimana konstruksi terowongan bawah tanah MRT digarap. Dalam proyek ini, Wika bekerja dalam satu konsorsium bersama Obayashi-Shimizu-Jaya Konstruksi.

Konsorsium ini mendapat jatah mengerjakan dua dari tiga paket segmen MRT bawah tanah dari Universitas Al-Azhar hingga Bundaran Hotel Indonesia. Argawan menjelaskan dua paket yang digarap konsorsium adalah cp 104 dari Senayan sampai Istora dan cp 105 dari Setiabudi hingga Bendungan Hilir.

Sementara, satu paket lainnya digarap oleh konsorsium Sumitomo Mitsui Construction Corporation (SMCC)-Hutama Karya. Paket ini adalah cp 106 mulai dari Dukuh Atas hingga Bundaran HI. Secara keseluruhan, tiga paket pembangunan bawah tanah sepanjang 5,9 kilometer ini membutuhkan dana sekitar Rp3,6 triliun.

Dalam proyek ini, kontraktor lokal hanya kebagian 30%, sementara sisanya 70% dikuasai kontraktor Jepang. Harap maklum karena pemberi pinjaman pada proyek ini adalah JICA. Jelas, lembaga ini tentu juga akan memprioritaskan perusahaan-perusahaan asal Jepang. Apalagi, pinjaman itu sifatnya memang tight loan. "Ini tight loan jadi syarat-syaratnya memang ketat sekali. Kontraktornya dari Jepang, bahan-bahannya juga dari sana," kata Jokowi. Sudah begitu, dari sekian peserta konsorsium memang tidak ada yang murni BUMN semua atau perusahaan lokal saja.

Di luar itu semua, dua konsorsium pemenang tadi memang mengajukan penawaran yang termurah dalam lelang pembangunan MRT. Kualifikasi keduanya juga sesuai dengan yang ditentukan oleh JICA. "Mereka mengajukan penawaran termurah dan paling cocok dengan kualifikasi yang diberikan JICA," ujar Muhamad Nasir, Direktur Konstruksi PT MRT Jakarta, Kamis pekan kemarin.

Urusan pemenang tender dalam proyek ini memang telah digariskan oleh JICA. Berdasarkan persyaratan dari JICA, konsorsium yang mengikuti proses tender harus terdiri atas perusahaan Jepang dan perusahaan Indonesia maupun negara lain. Soal komposisi saham pemenang tender itu mayoritas atau lebih dari 50 persen harus dimiliki satu atau gabungan perusahaan Jepang dalam konsorsium.
    
Dihadang Denda Rp800 Juta per Hari

Peresmian MRT boleh dibilang amat bersejarah karena proyek ini sudah direncanakan sejak 24 tahun lalu. Jokowi sudi menabuh gong peluncuran proyek ini setelah ia yakin betul bahwa proyek ini tak menjerat dirinya di kemudian hari. Jokowi bilang pengerjaan proyek-proyek besar seperti MRT perlu dikerjakan secara berhati-hati. Dia bahkan mengibaratkannya seperti hendak mencabut kumis harimau. "Masalahnya harus dimengerti dengan jelas, harus sabar," ujarnya. Jika segala permasalahan sudah dipahami, barulah keputusan bisa diambil. "Selain itu juga butuh keberanian."

Masalahnya ternyata MRT "mengandung masalah". Proyek ini sudah dibidani Fauzi Bowo saat menjabat gubernur. Ia telah menekan perjanjian dengan Japan International Cooperation Agency (JICA) yang memberi pinjaman 125 miliar yen. Pemprov DKI bersedia dikenai denda berupa commitment fee jika proyek tersebut batal atau molor dilaksanakan. Besarnya denda itu mencapai Rp800 juta per hari. Penanggungnya tentu saja Pemprov DKI dan pemerintah pusat. Denda itulah yang kini menjadi tanggungan Jokowi, karena proyek itu semestinya sudah harus dimulai tahun lalu.

Itu sebabnya, ketika proyek MRT baru dimulai Pemprov DKI sudah harus membayar commitment fee Rp5 miliar. Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, merinci besaran denda tersebut ditentukan berdasarkan rumusan commitment fee 0,1% dari total pinjaman 125 miliar yen untuk tahap pertama. Ini belum termasuk bunga 0,2% dengan jangka waktu pinjaman selama 40 tahun proyek.

Makanya, ketika proyek MRT diresmikan, ada kelegaan tersendiri buat Jokowi. Selain bisa menunaikan janji-janji saat kampanyenya dulu, Pemprov DKI juga akan terbebas dari denda yang lebih besar lagi. Jokowi, tentu saja, ogah kena getah, sedangkan ia tak merasa menikmati nangkanya.

Kelegaan juga dirasakan Hatta Rajasa. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Menko Perekonomian) ini adalah salah satu pejabat pusat yang disebut-sebut amat rajin mendesak Jokowi untuk segera meluncurkan proyek ini. Hatta beralasan, MRT merupakan proyek yang telah tercetus sejak dirinya menjabat sebagai Menteri Perhubungan pada Kabinet Indonesia Bersatu Jilid I medio 2004–2007. "Saya betul-betul berharap ini bisa smooth," ucapnya.

Sebagai Menko Perekonomian, Hatta pula yang memimpin rapat koordinasi sehingga pembiayaan MRT terbagi menjadi 49 persen untuk pemerintah pusat dan 51 persen untuk Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Jokowi berharap proyek tahap I bisa selesai pada 2017. Jika proyek ini rampung tentu saja harapannya akan mengurangi tingkat kemacetan di Jakarta. Kemampuan moda transportasi ini dalam mengangkut penumpang tergolong besar. Kapasitas angkut MRT bisa dua kali lipat dibanding monorel dan delapan kali lipat dengan bus Transjakarta. Diperkirakan, MRT mampu mengangkut sekitar 40 ribu penumpang per jam per arah.

Sementara, Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Udar Pristono, menghitung jalur MRT tahap satu, Lebak Bulus–Bundaran HI, diprediksi mampu mengangkut 500 ribu penumpang saja per harinya. Berdasarkan data yang di miliki Dinas Perhubungan Jakarta, saat ini ada 22 juta perjalanan di Jakarta setiap harinya. Sementara, jumlah angkutan umum hanya dua persen saja dari jumlah tersebut.

Menurut Udar, Jakarta baru bisa terbebas dari kemacetan jika 60 persen dari seluruh perjalanan di Jakarta menggunakan transportasi umum. Karena itu, perlu dukungan dari angkutan massal lainnya seperti bus TransJakarta. Lepas dari itu, dengan mulai dibangunnya MRT kini, satu helai kumis harimau telah tercabut.







Berlangganan Sindo Weekly