Majalah Sindo Weekly
ESET NOD32 ANTIVIRUS


Cinema

NO. 49 TAHUN II, 6 - 12 FEBRUARI 2014

Sekadar Ngakak Tanpa Pesan

Penulis: Sjafrial Arifin
Sekadar Ngakak Tanpa Pesan

MUVILA.COM

Tak semua lelucon spontan dapat dibaurkan dalam sebuah plot, apalagi jika dimainkan dengan emosi persaingan. Dalam soal ini memang Warkop DKI masih unggul.

 

I

ni kisah yang dimainkan oleh para stand up comedian. Sebagai tokoh komik yang biasa muncul di televisi, mereka punya kemampuan personal dalam menguras tawa pemirsanya. Kebanyakan bersifat improvisasi, bahkan spontan. Pikiran, ide refleks, dan ingatan yang mendadak muncul kerap jadi materi lelucon. Tapi, itu dalam permainan tunggal. Ada semacam punchline untuk membuat orang tertawa.

Bagaimana jika mereka dikumpulkan dan memainkan sebuah plot yang tak kalah liarnya? Nah, dalam film ini, sejumlah jagoan itu dihadapkan pada suatu plot yang diharapkan dapat memunculkan variasi atau improvisasi para pemain.

Jika dalam kompetisi, para komik satu sama lainnya bisa saling berusaha mengungguli. Tapi, dalam plot yang harus dimainkan oleh delapan komik atau lebih itu agaknya merupakan kerumitan tersendiri. Film komedi penuh aksi ini bertajuk Comic 8 produksi Falcon Pictures dibintangi oleh Mongol Stres, Mudy Taylor, Ernest Prakasa, Kemal Palevi, Bintang Timur, Babe Cabiita, Fico Fachriza, Arie Kriting, Indro Warkop, Nirina Zubir, Nikita Mirzani, Pandji Pragiwaksono, Boy William, Candil , Coboy Junior, Jeremy Teti, Kiki Fatmala, Agus Kuncoro, Joe P Project, Cak Lontong, Henky Solaiman, Laila Sari, Agung Hercules, Ence Bagus, dan Ge Pamungkas.

Sesuai judulnya, peran utama lakon kocak ini memang dikuasai oleh delapan komedian utama yang sudah tenar sebagai bintang stand up di beberapa televisi swasta. Mereka memainkan delapan karakter utama dalam menggenjot alur film yang terus-menerus mengocok perut. Selain delapan karakter, dalam cerita itu, mereka digambarkan berasal dari beragam latar belakang.

Suatu ketika, mereka sepakat untuk merampok sebuah bank dengan motif berbeda-beda. Terkesan, kegiatan itu seolah hanya sekadar hobi, iseng, galau, godaan adrenalin, atau ada yang tulus bertujuan untuk membantu panti asuhan. Mereka lantas berbagi tiga posisi dengan jam terbang yang berbeda.

Perampokan yang mereka lakukan menimbulkan gempar dan ketegangan. Selain harus menghadapi polisi cantik, AKP Nirina Zubir, juga ada wanita nakal, Nikita (Nikita Mirzani) yang doyan memancing orang sambil buka-buka paha. Dua wanita cantik itu berada dalam dentuman aneka peluru dari tembak-menembak para rampok dan polisi.

Ada Mongol yang jadi waria, Ernest sebagai kepala geng, Kemal menjadi penjahat yang mengidolakan grup JKT 48, Arie Kriting dengan logat khas orang Indonesia timur, sementara Mudy dengan gitarnya mampu mengeluarkan tembakan. Lalu ada negosiasi, sang perampok minta Ibu Kota Negara Kesatuan Republik Indonesia dipindahkan ke Papua. Tapi bagaimana dengan keceplosan? Hanya karena ingin mengejar tawa materi dialog yang dipakai sudah sembarangan, alias kurang kontrol, bahkan terasa kurang etis.

Jalan Pintas

Ada tiga pelaku yang mengaku pecundang, lalu ada dua yang mengaku anak orang kaya, dan beberapa yang mengaku jagoan perang. Kisah yang dibalur dari beberapa cerita bandit, spionase, dan perampokan internasional ini cukup mulus sampai 60%, selanjutnya terasa sutradara mencoba menghabiskan amunisinya.

Lazimnya, setiap pengarang menamatkan penuturannya dengan menggunakan jalan pintas. Misalnya, sang tokoh utama tewas, atau terjadi sesuatu yang benar-benar gawat. Tapi, Anggy Umbara masih bisa menarik napas untuk menghadirkan ending cerita. Dengan memasukkan indikasi baru, yakni ternyata mereka semua adalah pasien Rumah Sakit Jiwa yang iseng-iseng keluar asrama.

Maunya, film ini berkehendak melakukan kritik sosial. Tapi, riuhnya deretan pemain dengan 28 pendukung (cameo) seperti Coboy Junior, Laila Sari, Kiki Fatmala, Agus Kuncoro, Jeremy Teti, hingga Hengky Solaiman, justru terasa sebagai tempelan yang dipaksakan karena mereka punya nama. Film yang disutradarai oleh Anggy Umbara ini seperti tak membawa pesan apa-apa, kecuali bikin heboh, ngakak, dan ger-geran, yang dicoba untuk habis-habisan. Film ini diwarnai oleh sebuah medley berjudul Kompor Meleduk.

Namun, setelah melihat adanya animo yang meledak tak terduga, pihak sutradara dengan bangga akan melakukan sekuel berikutnya.


Artikel Lainnya di Rubrik ini:

  • Tidak ada artikel lainnya di rubrik ini.






ESET NOD32 ANTIVIRUS