Majalah Sindo Weekly
Berlangganan Sindo Weekly


Cinema

NO. 10 TAHUN II, 9 - 15 MEI 2013

Bisnis dan Percintaan Dalam Mobil

Penulis: Sjafrial Arifin
Bisnis dan Percintaan Dalam Mobil

ACESHOWBIZ.COM

Kita seperti disuguhkan oleh pusaran dunia materialistis dalam sehari penuh, siang sampai malam. Akting unik dengan setting tak riuh dari film ini membuat kita merenung panjang.

I

ni kisah bos Eric Packer dari perusahaan besar Packer Capital yang bergaya dingin, arogan, namun cerdas dan unik. Packer yang dimainkan oleh aktor Robert Pattinson ini adalah pelanjut bisnis keluarga. Tapi, Eric selalu ngendon dalam mobil kerennya, limusin putih. Mobil canggih itu dilengkapi berbagai kebutuhan dalam menjalankan usahanya. Pattinson yang kece dalam film Twilight, malah berperan acuh.

Bos gagah ini seolah tokoh rentan dan kokoh. Ia memiliki mata besar, alis tebal, dan bersuara lembut. Tapi, sosoknya dimunculkan serius dan tegang, dan segalanya dengan gerak serba minimalis. Baginya tak ada cerita masa lalu, kecuali sepanjang hari yang dilaluinya adalah masalah uang. Meski semua berlangsung dalam mobil, toh ia membuat putaran ekonomi pasar bergerak blingsatan. Ia tak peduli kegaduhan dan keganasan demonstrasi antikapitalis yang terjadi di luar, juga pada ancaman pembunuhan dari seseorang yang tak dikenal. Di luar limusin, New York di sekitarnya ibarat diorama yang bergerak.

Lihatlah ketika ia melangkah ke limo di pagi hari dalam setelan Gucci dan kacamata hitam, kemudian berkata akan menyeberangi Manhattan hanya untuk potong rambut. Packer tak peduli kemacetan lalu lintas, atau iringan mobil presiden. Kontak relasi, bisnis, rapat, pantauan pasar, konsultasi medis, dan sebagainya dilakukannya dalam mobil mewah itu. Termasuk cukur rambut dan bercinta, walau mobilnya terus berpindah tempat.

Film bertajuk Cosmopolis yang diadaptasi dari novel ini agaknya memunculkan kekuatan aktor dengan banyak ekspresi wajah untuk berbagai arus emosi yang menimpa sang tokoh, ditukuk dengan dialog-dialog bernas. Ini membuat aktor asal Inggris, Robert Pattinson, muncul dengan kualitas akting yang memikat. Sudah tentu Cronenberg menguras gagasannya dalam mengadaptasi karya seorang fantasis apokaliptik berbakat, Don DeLillo, sang novelis, menjadi film eksentrik yang tampak hambar, tapi memunculkan keindahan serta lelucon konseptualis.

Dunia dalam Limusin

Garapan Cronenberg ini sekilas mengingatkan kita pada The Bonfire of the Vanities, atau American Psycho. Meskipun tidak menampilkan lokasi yang banyak, tapi interior mobil dirancang dalam nuansa abu-abu hitam dan gelap, dengan trim krom dan biru, dan layar menyala, terungkap kejadian kekerasan dan erotis ibarat teater berjalan nan kaya imajinasi. Ceritanya lebih komprehensif tentang masalah global, namun penuturan seharian penuh ini mengesankan dunia dalam limusin dari kacamata Cronenberg.

Ikut main dalam film ini antara lain Sarah Gadon, Paul Giamatti, Kevin Durand, Juliette Binoche, Emily Hampshire, dan Samantha Morton. Ada semacam pesan bahwa kekayaan bukanlah segalanya. Juga ungkapan tentang persahabatan, kekeluargaan, kesetiaan, dan cinta. Kita juga bisa merasakan kebencian DeLillo atas dematerialized yang menciptakan manipulasi keuangan.

Tokoh Pattinson ini merupakan lawakan getir melalui metafora fiksi ilmiah yang mengesankan manusia tak lebih daripada robot rakus. Padahal, DeLillo menulis novel beberapa tahun setelah runtuhnya teknologi di 2000. Toh, ramalannya terakui jauh lebih besar dari 2008. Namun, Cronenberg memberikan aksentuasi pemaknaan lewat dialog dari ide DeLillo yang bertaburan berupa eksposisi posmodernis tentang bagaimana fungsi uang di dunia maya.

Drama fiksi ilmiah berdurasi 109 menit ini diputar perdana dalam kompetisi untuk Palme d'Or di Cannes Film Festival 2012, dibuat dengan bujet US$ 20,5 juta. Dirilis di Amerika Serikat sejak Agustus tahun silam, kini memasuki pasar Asia Tenggara. Kritikus musik Daniel Schweiger memuji soundtrack film ini sebagai alunan keindahan dalam halusinasi alam sekitar. Sementara, Robbie Collin dari The Telegraph memberikan nilai empat dari lima bintang dengan menyatakan bahwa film ini adalah sebuah inversi cerdas.

Cosmopolis merupakan mimpi yang menggelikan. Seluruh kehidupan terjadi dalam limo mewah, baik bisnis maupun percintaan yang memabukkan. Kita seperti disuguhkan oleh pusaran dunia materialistis dalam sehari penuh, siang sampai malam. Akting yang unik dengan setting tak riuh membuat kita merenung panjang. Pattinson bisa saja muncul sebagai masokis yang acuh tak acuh, tapi memiliki tubuh dengan sensasi seks yang menaklukan wanita. Misalnya ia dengan mudah menggaet cewek cantik, dan bercumbu sampai tuntas.

 

Judul : Cosmopolis
Pemain : Robert Pattinson, Paul Giamatti, Samantha Morton, Sarah Gadon, Mathieu Amalric, Juliette Binoche, Jay Baruchel, Kevin Durand, Emily Hampshire, Samantha Morton
Skenario : David Cronenberg
Sinematografi : Peter Suschitzky
Musik : Howard Shore
Editor : Ronald Sanders
Produser : Paulo Branco, Martin Katz
Studio : Alfama Film
Sutradara : David Cronenberg

 

Kisah Tiga Titik

Ada tiga cewek, sama-sama bernama Titik. Titik Sulastri (dimainkan oleh Ririn Ekawati), Titik Dewanti Sari (Lola Amaria), dan Titik Kartika (Maryam Supraba). Ketiganya sama-sama punya masalah pahit dalam ketidakadilan, dan mereka berjuang untuk menyelesaikannya dengan caranya masing-masing. Titik Sulastri buruh rendah di pabrik garmen, ia janda beranak satu, tapi bekerja dalam tekanan. Titik Dewanti Sari (Lola Amaria), perawan tua, bekerja di sebuah perusahaan besar yang penuh skandal. Titik Kartika, cewek tomboi dari lingkungan kumuh, bekerja di pabrik rumahan.

Selain menjadi pemain, Lola Amaria adalah produser film ini. Film ini disutradai oleh Bobby Prabowo. Sementara, Maryam Supraba baru main film, namun pengalaman aktingnya banyak diperolehnya dari dunia teater, baik asuhan ayah kandungnya, W.S. Rendra maupun ibunya, Ken Zuraida. Meskipun bersifat fiksi, toh film ini diangkat dari kisah nyata, derita perjuangan kaum wanita untuk mandiri. Produksi Amaria's Production ini didukung Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia.


Artikel Lainnya di Rubrik ini:

  • Tidak ada artikel lainnya di rubrik ini.






Berlangganan Sindo Weekly