Majalah Sindo Weekly
Berlangganan Sindo Weekly


Global

NO. 10 TAHUN III, 8 - 14 MEI 2014

Suriah

Barat Juga Menentang Pemilu

Penulis: Debi Abdullah
Barat Juga Menentang Pemilu

VEOOZ.COM

Suriah segera mengadakan pemilihan presiden. PBB dan Barat tak setuju karena negara sedang dilanda konflik. Meski ada 24 orang capres yang berkompetisi, Presiden Bashar al-Assad sepertinya akan memenangi pemilu. Sementara, Barat ingin menjatuhkan Assad dengan mengibarkan isu konflik Sunni-Syiah.
 

R

eformasi Suriah yang digadang-gadang presidennya, Bashar al-Assad, bukan omong belaka. Entah hal ini dilakukan untuk menangkis kesan tirani, seperti dituduhkan selama ini, atau benar-benar atas dasar demokrasi. Juru Bicara Presiden, Mohammad al-Lahham, di hadapan parlemen pada Ahad pekan lalu, mengumumkan agenda pemilihan presiden (pilpres) yang bakal digelar 3 Juni mendatang. Amerika Serikat beranggapan bahwa pilpres itu hanya “parodi demokrasi”. Dengan kata lain, untuk mengesankan seolah-olah demokrasi ditegakkan di sana.

Dua jam sebelum pengumuman pilpres dibacakan, terjadi ledakan mortir di dekat gedung parlemen. Lima orang warga Ibu Kota Damaskus yang berada di sana tewas seketika. Itu tandanya al-Assad tidak peduli dengan situasi politik dan konflik di Suriah yang belum stabil. Pilpres harus tetap berjalan. Keselamatan warga pun menjadi taruhannya. “Pilpres ini semakin mengurangi kepercayaan dunia kepada Damaskus,” kata Catherine Ashton, Menteri Luar Negeri Uni Eropa, seperti dikutip Alarabiya pada Rabu pekan lalu.

Assad dan pendukungnya tak surut berargumen. Di Suriah, demokrasi bisa ditegakkan. Meski pilpres ini dianggap Uni Eropa dan PBB akan mengganggu resolusi politik dan konflik, namun cara ini merupakan langkah maju membentuk perdamaian dan stabilitas di Suriah. Hossein Sheikholeslam, Penasihat Ketua Parlemen Iran untuk Urusan Internasional yang pro al-Assad mengatakan bahwa pilpres ini dapat menetralisasi plot musuh yang memprovokasi kekerasan sektarian. “Pilpres ini juga membantu melenyapkan terorisme dan ekstremisme,” tambah Sheikholeslam.     

Sebelum pengumuman pilpres dilansir, Assad dikabarkan akan mengundurkan diri dari kursi kepresidenan. Namun, Assad menepis kabar itu. Ketua Parlemen Suriah, Jihad al-Laham, mengumumkan bahwa Assad mencalonkan diri lagi sebagai presiden untuk masa jabatan ketiga kalinya. “Ini ujian persatuan nasional. Suriah toleran terhadap minoritas. Namun, jika kelompok-kelompok Islam ekstrem memaksa berperang, pemerintah berhak melepas cengkeraman mereka,” tutur Assad. Artinya, pria yang telah memimpin Suriah sejak 2000 itu tidak ingin membiarkan perahu yang sedang oleng direbut oleh orang lain.

Persyaratan Sulit

Sebanyak 24 orang mendaftar sebagai calon presiden. Anggota parlemen mendominasi pencapresan ini. Cermin demokrasi pilpres di Suriah jelas terlihat. Sebab, ada tiga orang yang menjadi ikon komunitas hak dan persamaan derajat. Capres Maher Abdel Hafiz Hajjar merupakan salah satu anggota parlemen dari Partai Komunis. Ada pula capres dari umat Kristen, yakni Samih Mikhail Moussa. “Pencalonan kandidat Kristen memberikan kesempatan baik untuk rakyat, khususnya warga Kristen di Suriah,” kata George Jabour, mantan Penasihat al-Assad.

Pencapresan tidak pula menutup pendaftaran dari kaum hawa. Seorang insinyur wanita dari Pantai Latakia bernama Sawsan Haddad, pada Sabtu pekan lalu, mengajukan diri ke Mahkamah Konstitusi Tertinggi untuk nyapres. Dia merupakan satu-satunya capres wanita. Selain tiga nama itu, ada Samir Muala, Mohammad Yasin, dan Abdul-Salam Salameh. Mereka adalah capres terakhir yang mendaftar. Batas akhir pendaftaran tersebut pada 1 Mei pukul 15:00 waktu setempat.

Pengamat Timur Tengah, Nadim Shehadi, mengaku tidak terkejut, bahkan kalau Assad menang dengan mayoritas besar. Sebab, keputusan Assad untuk mencalonkan diri lagi telah dia duga sejak lama. “Itulah yang telah dilakukan rezimnya selama 50 tahun terakhir dan karena itulah terjadi revolusi,” ungkapnya, seperti dilansir VOA.

Hisham Sha’ar, Kepala Komisi Pemilu Suriah, mengatakan bahwa UU Pemilu baru mensyaratkan capres harus berada di Suriah minimal selama 10 tahun. Hal ini untuk membendung sejumlah tokoh oposisi yang tinggal di pengasingan atau luar negeri. Itu sebabnya tidak ada calon dari kubu oposisi. Masing-masing kandidat, termasuk Assad, harus mendapat dukungan dari 35 anggota parlemen.

Capres sekurang-kurangnya berusia 40 tahun. Status kewarganegaraan harus Suriah, putra dari warga Suriah, menikah dengan wanita Suriah, dan tidak terlibat kasus pidana. Syarat ini merupakan hasil dari amendemen atas konstitusi dalam referendum dua tahun lalu. “Media pemerintah akan bersikap netral terhadap semua kandidat. Negara akan konsisten menjaga keamanan,” kata Omran al-Zoabi, Menteri Informasi Suriah.

Assad Didukung Syiah?

Sejumlah analis Barat bisa saja keliru meramalkan revolusi Suriah bakal habis. Nyatanya, rezim Assad yang ditopang Syiah Alawiyah pimpinan keluarga al-Assad, akan tetap berkuasa di negeri Syam ini. Meski berbagai media—termasuk BBC—Qatar dan Saudi Arabia sudah membantu kubu oposisi. Sementara, Inggris sedang “berpikir” akan membantu persenjataan, namun nyatanya bantuan itu tidak pernah ada. Pimpinan Tentara Pembebasan (FSA) Suriah, Jenderal Salim Idriss, menyatakan kalau memang datang bantuan, FSA akan memenangkan perjuangan ini hanya dalam 6 bulan.

Partai penguasa Suriah, Partai Baath, bukan semata-mata didasari oleh kepentingan politik untuk kekuasaan rezim Assad. Pihak Barat yang terlibat terlalu jauh dalam konflik Suriah meniupkan bahwa partai itu dilatarbelakangi oleh ideologi dan agama. Itu sebabnya negara Timur Tengah sulit untuk memberi bantuan persenjataan kepada kubu oposisi. Syiah Alawiyah, ideologi yang belakangan dikenal sebagai kelompok Nushairiyah, sejak era Hafizh Assad, telah menyebar ke berbagai penjuru Timur Tengah.

Assad memang penganut Syiah. Namun, yang dianut Assad berbeda dengan yang di Iran. Pendukung utama rezim Assad justru datang dari Partai Baath yang sekuler, seperti partai Baath Saddam Husein di Irak ketika itu. Namun, pihak Barat sudah kepalang basah ingin menjatuhkan Presiden Assad yang didukung Rusia, Cina, Iran, dan Venezuela. Pemicu yang dipakai untuk membakar konflik adalah mengibarkan isu ideologis, antara Syiah dan Sunni. Dengan alasan itu, Barat berambisi membumihanguskan rezim al-Assad yang dicitrakan sebagai Syiah.

Pahitnya, justru dirasakan muslim Sunni. Gelombang konflik menentang rezim Suriah lebih besar dibanding Mesir, Libya, dan Tunisia. Ribuan orang Sunni telah gugur diterjang timah panas atau ledakan bom karena ikut melawan pasukan pendukung Assad.

Kalau saat ini pemilu digelar dan rakyat bebas memilih, kemenangan diperkirakan akan berpihak kepada partai yang kini berkuasa, yakni Baath. Partai sekuler ini didukung baik oleh Syiah maupun Sunni, serta kelompok agama lain di Suriah. Mereka inilah calon pemberi suara untuk Assad.


Artikel Lainnya di Rubrik ini:







Berlangganan Sindo Weekly