Majalah Sindo Weekly
ESET NOD32 ANTIVIRUS


Global

NO. 49 TAHUN II, 6 - 12 FEBRUARI 2014

Selangkah Menuju Penggulingan Presiden

Penulis: Anes Wahyu Novianto
Selangkah Menuju Penggulingan Presiden

Pencabutan UU Antidemonstrasi menambah krisis politik. Perdana Menteri Azarov mengundurkan diri. Seluruh jajaran kabinet pun tinggal menyisakan beberapa hari kerja. Kini, tinggal penguasa terakhir; Presiden Yanukovych.

L

ebam di wajah Tetyana Chernovil belum sepenuhnya hilang. Meski sesekali ada nyeri yang terasa, tak lantas membuatnya kehilangan asa. Ia terus menulis, menyuarakan aspirasi rakyat, lalu menulis lagi. Dalam menguak kebobrokan orang-orang tamak yang enggan menundukkan kepala, ia tak takut sedikit pun. Keyakinannya malah semakin tebal.  

Ya, dialah Chernovil atau yang biasa disapa Tetyana di media-media Ukraina. Pemimpin demonstrasi yang kerap menulis untuk media oposisi Ukrainska Pravda ini sempat menjadi sasaran amuk pemimpin-pemimpin kotor. Ia dipukuli orang-orang bayaran. Tak jauh beda seperti yang dialami para pemimpin demonstrasi lainnya.

Wanita berusia 37 tahun ini masih mengingat betul kejadiannya. Kira-kira sore hari, saat matahari hendak kembali ke peraduannya, Tetyana dalam perjalanan menuju rumahnya. Namun, sebuah mobil besar tiba-tiba saja mendekat dan memepetnya hingga ke tepi. Sadar dirinya dalam bahaya, ia mencoba keluar dari mobil dan melarikan diri. Sayang, beberapa pria kekar lebih cepat dan menangkapnya. Hujan bogem pun langsung mendarat di wajah dan tubuhnya. Berkali-kali. Ia seperti tidak dianggap manusia, apalagi wanita.

Setelah mendapat perawatan, dokter menyatakan aktivis yang menyerukan anti-pemerintah itu menderita gegar otak. Wanita cantik yang belum lama menuliskan hal-hal buruk dari Menteri Dalam Negeri, Vitaly Zakharchenko, ini juga mengalami retak pada hidung dan wajahnya. Meski tak lagi cantik, untuk sementara, perjuangan Tetyana tidak lantas meruntuhkan keberanian aktivis-aktivis lainnya untuk terus melakukan perlawanan terhadap Presiden Victor Yanukovych.
 
“Mereka itu hanya ingin melumpuhkan orang dengan menebar ketakutan,” ujar Pemimpin Oposisi, Vitali Klitschko, yang mengutuk penyerangan terhadap Tetyana. “Itu tak akan berhasil menggentarkan kami,” sambung mantan juara dunia tinju kelas berat itu, seperti dilansir Guardian beberapa waktu lalu.  

Seperti diketahui, apa yang dialami para aktivis penentang kebijakan pemerintah tidak hanya sekali atau dua kali. Sebelumnya di Kota Kharkiv, aktivis Dmytro Pylypets juga dipukuli bahkan ditikam orang tak dikenal. Begitu juga dengan dua orang aktivis dari LSM Road Control yang dibuat bonyok oleh sekelompok pria berbadan kekar. Tak hanya itu, keduanya pun pernah diserang orang tak dikenal dengan senjata api.

Meski demikian, apa yang diusung baik dari Tetyana, Klitschko, hingga pemimpin oposisi lainnya, Arseniy Yatsenyuk, mulai menunjukkan tanda-tanda kemajuan. Gelombang unjuk rasa yang sudah berlangsung berhari-hari akhirnya memaksa Perdana Menteri Ukraina, Mykola Azarov, mengundurkan diri Selasa lalu. Tak sendirian, keputusan Azarov ini menular hingga ke seluruh anggota kabinetnya. Langkahnya ini langsung disambut sukacita oleh para demonstran.

Akan tetapi, perjuangan bagi Klitschko tidak hanya sampai di sini. Menurutnya, sampai Presiden Yanukovych turun dari takhta kepemimpinan, kelompoknya tidak akan beranjak dari Lapangan Kemerdekaan Kiev. Selain itu, masih ada tuntutan menandatangani kerja sama dengan Uni Eropa yang harus dituruti. “Kami bukan hanya menginginkan pemerintahan diganti, tapi juga kebijakannya. Perjuangan ini masih berlanjut,” tegas Klitschko, seperti dilansir Reuters pekan lalu.

Terancam Gagal

Tak lama, parlemen pun segera mencabut Undang-undang Antidemonstrasi yang belakangan marak dikecam dunia. PM Azarov yang tadinya pelaku utama lahirnya kebijakan kontroversial tersebut kembali menarik lidahnya dan menghapus peraturan dengan berlagak demi meredakan situasi politik. Posisinya pun digantikan Wakil I Perdana Menteri Serhiy Arbuzov pekan lalu.

Selepas “menyerah”, Azarov pun mengeluhkan tindakan dari Klitschko yang terus mengancam presiden dan jajarannya. Katanya, mereka seharusnya lebih besar hati dan menerima keputusan pemerintah. Sebab, keputusan tersebut murni untuk kesejahteraan rakyat. Azarov pun berkilah dengan mengatakan bahwa pemerintah sebenarnya siap berunding dan membuat kesepakatan. Hanya saja, kenyataannya selalu polisi antihuru-hara yang jadi solusi.

“Mereka itu harusnya mengerti kalau mereka bertanggung jawab untuk mencegah terjadinya perang saudara dan pertumpahan darah,” lanjut Azarov seperti diberitakan BBC pekan lalu. Azarov pun menyalahkan Klitschko sebagai penyebab munculnya kekerasan yang berbuntut banyak korban berjatuhan. “Saya sudah mengingatkan pihak kepolisian untuk tidak represif atau keras kepada demonstran, kok,” ujarnya. Kenyataannya? Para pendemo malah ditangkap dan dipenjara.

Akan tetapi, tuntutan pendemo agar pemerintah segera menyetujui pakta perdagangan dengan Uni Eropa dan menolak kerja sama dengan Rusia terancam gagal. Penyebabnya justru datang dari Uni Eropa sendiri. Lunturnya perlindungan HAM di Ukraina membuat Eropa berpikir ulang. Ukraina pun dihadapkan pada syarat harus meredakan ketegangan terlebih dahulu sebelum memutuskan bergabung. Nah, kalau sudah begini, justru Pemerintah Yanukovych yang diuntungkan karena tetap keukeuh berkiblat ke Rusia dan Cina. Aduh.     
 







ESET NOD32 ANTIVIRUS