Majalah Sindo Weekly
Berlangganan Sindo Weekly


Highlight

NO. 10 TAHUN II, 9 - 15 MEI 2013

Jago Festival, Tertinggal di Pasar

Penulis: Bona Ventura
Jago Festival, Tertinggal di Pasar

Kalah pamor dengan Hollywood, bukan berarti Festival Film Eropa sepi gereget. Dengan keanekaragaman budaya dan pesan kehidupan di dalamnya, animo terhadap film Eropa terus bertambah.

A

da dua hal yang terkenal dari Finlandia. Pertama adalah Nokia, produsen peralatan telekomunikasi dunia. Kedua, Jari Litmanen, mantan pesepak bola yang malang-melintang di Ajax Amsterdam, Barcelona, dan Liverpool. Jumat pekan lalu, Litmanen berkunjung ke Jakarta. Berbeda dengan para pesepak bola lainnya yang datang ke Indonesia untuk memberi coaching clinic, Litmanen hadir sebagai narasumber Festival Film Eropa atau Europe on Screen (EOS) 2013 yang diselenggarakan di tujuh kota di Indonesia pada 3−12 Mei.

The King Jari Litmanen, demikian salah satu judul film yang diputar di Europe on Screen 2013. Film tersebut mengisahkan segala hal tentang pria 42 tahun itu. Mulai dari perjalanan karier hingga kehidupan pribadi. "Saya telah melihat film dokumenter itu beberapa kali. Agak aneh melihat karier saya yang selama 25 tahun hanya dalam 1 jam 45 menit saja," ujarnya saat pembukaan EOS 2013 di Keraton The Plaza Hotel, Jumat kemarin. Dokumenter mengenai Litmanen rencananya tayang dua kali di Jakarta (5 Mei di Goethe Haus dan 11 Mei di Erasmus Huis) dan sekali di Bali (Alliance Française pada 10 Mei).

Bintang Ajax saat menjuarai Liga Champions 1995 ini, mengaku awalnya tidak tertarik untuk membuat film dokumenter. "Saya merasa belum pantas dan belum memenuhi kriteria sebagai sosok legenda yang kisahnya patut diceritakan dalam sebuah film," tukas dia. Namun, sutradara Arto Kiiskinen mendesaknya. Litmanen pun akhirnya setuju mengabadikan perjalanan hidupnya dalam sebuah film. Saat diputar di negaranya, The King Jari Litmanen mampu menyedot perhatian 12 ribu penonton dan memecahkan rekor film dokumenter Finlandia.

Meski kalah gaung dengan film besutan Hollywood dan Bollywood, Festival Director EOS 2013 Orlow Seunke bilang film-film Eropa tidak sekaku dan monoton seperti anggapan kebanyakan orang. Menurut Seunke, film buatan Benua Biru itu kaya akan keanekaragaman budaya Eropa dan pesan kehidupan di dalamnya.
Bahkan Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia, Julian Wilson, mengatakan film-film Eropa juga memiliki serial yang tidak kalah dari James Bond atau Iron Man yang mendunia. "Kami memiliki film dengan sensasi menghibur yang tinggi."

Selain dokumenter Jari Litmanen, EOS 2013 hadir dengan tiga tema utama: XTRA, DISCOVERY, dan DOCU. Dalam XTRA ada 12 film yang akan diputar , yaitu film-film yang sukses di box office Eropa seperti Come As You Are, The Fourth State, What's in a Name, Headhunters, Easy Money, atau Route Irish yang bercerita tentang persahabatan antara Frankie dan Fergus, sejak kecil hingga masuk dinas militer—tapi Frankie tewas di Irak saat bertugas di sebuah perusahaan keamanan swasta di sana. Juga film alumni Cannes Festival 2011, yaitu We Have a Pope dan Jackie.

Seksi DISCOVERY akan memutarkan 19 film, beberapa di antaranya adalah perwakilan resmi negaranya untuk masuk Academy Award. Judul-judul yang diputar adalah Balls, Crossing Boundaries, Chico & Rita (nominator Oscar 2012), In the Fog (Cannes 2012), Sister (peraih Beruang Perak di Berlinale 2012), dan The Parade (pemenang Audience Award Berlinale 2012).

Adapun 18 film dokumenter yang disajikan adalah kisah Anton Corbijn (mengabadikan fotografer perancang visual kreatif band U2 dan Depeche Mode); Inni (dokumenter tentang grup musik Sigur Ross), Jane`s Journey, Nicky`s Family; juga film tentang diktator Rumania Nicolae Ceausescu, mantan diktator Rumania yang terguling pada 1989; dan Duch yang berkisah soal mantan kepala penjara Khmer Merah di Kamboja, yang bertanggung jawab atas kematian 12.380 tahanan. Juga dokumenter tim bola basket Lithuania dalam The Other Team yang direkomendasikan oleh Orlow Seunke sendiri.

"Kami memberikan satu sudut kecil untuk menunjukkan karya-karya terbaik Eropa, orang-orang yang banyak memengaruhi dan dibicarakan oleh seluruh dunia seperti Picasso dalam The Mystery of Picasso atau sosok Fritz Lang yang merupakan inspirasi dari sutradara-sutradara besar dunia. Kami berusaha memberikan hiburan sekaligus pengetahuan melalui festival ini," ujar Wilson, setengah berpromosi.

Menariknya, EOS juga menyuguhkan film untuk anak-anak yang disajikan dalam bentuk animasi, seperti Animals United (Jerman), Sammy's Great Escape (Belgia), The Great Bear (Denmark), dan Zarafa (Perancis). Dalam Animals United, penonton terutama anak-anak diajak untuk menjaga dan merawat planet bumi. Kerakusan sebagian orang membuat sekelompok makhluk animasi dalam film itu bersatu padu guna membenahi bumi dengan cara mereka sendiri. Totalnya terdapat 72 film yang berasal dari 30 negara Eropa. Film-film ini dapat disaksikan di Bandung, Denpasar, Makassar, Medan, Surabaya, Yogyakarta, dan Ibu Kota.

Seunke menyebut EOS 2013 juga bertujuan menemukan bakat-bakat perfilman muda dari Indonesia, serta mendorong mereka mengembangkan diri. EOS sendiri semakin berkembang dari tahun ke tahun. Ya, pasalnya selain pemutaran film, juga terdapat ajang diskusi antara sineas Indonesia dengan sineas Eropa. Di mana desainer suara asal Belanda, Peter Warnier, yang pernah meraih Piala Oscar dalam film Love Is All (1998), akan membagi pengalamannya dengan insan perfilman di Tanah Air.

Kehadiran Festival ini sudah tercatat sejak penyelenggaraan pertamanya pada 1990, kemudian 1999 untuk yang kedua. Dan sejak 2003, EOS terus berlangsung setiap tahunnya. Gaungnya pun tidak kalah besar. Sebagai bukti, pada 2012, EOS yang memutar 50 film disaksikan sekitar 8 ribu orang. Animo tersebut membuat panitia menambahkan jumlah film dan mulai menggunakan programmer.


Artikel Lainnya di Rubrik ini:







Berlangganan Sindo Weekly