I UJUNG senja, Senin pekan ini, di Pasar Jaya Depok, Jawa Barat, sejumlah pedagang bergegas membereskan barang. Tapi sebelum mereka kelar menutup lapak, serombongan orang terlihat memasuki pasar. Mereka berjalan beriringan, menenteng aneka peralatan yang tak kalah misteriusnya. Yang mereka tuju kawasan gelap di dalam pasar: lapak penjual daging ayam.
Tak banyak bicara, masing-masing sigap dengan aneka perlengkapan di tangan: masker, pakaian laboratorium, sarung tangan, dan kain steril pembungkus alas kaki. Hanya dalam hitungan menit, lapak daging itu seperti bersalin aura tak ubahnya laboratorium riset medis. Ada yang mengais kotoran. Ada yang mengumpulkan sisa potongan daging. Seorang bahkan memeriksa jenis darah yang melengket di celemek pedagang.
Tamu misterius itu adalah staf peneliti Organisasi Pangan Dunia, FAO. "Ini pengambilan sampel rutin sekali sebulan," kata Direktur Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Pudjiatmoko yang mendampingi proses pengambilan sampel. Meski rutin, Pudjiatmoko bilang pengambilan sampel kali ini sekalian mengantisipasi masuknya virus baru flu burung H7N9 di Indonesia. "Virus ini baru dan unik karena ternyata belum ada virus sejenis ini di dunia," katanya kepada Yohannes Tobing dari SINDO Weekly.
H7N9 merupakan subtipe virus flu burung tipe A. Dari keluarga tipe A, tercatat sejumlah subtipe yang masuk kategori mikroorganisme parasit mematikan. H1N1 atau kerap disebut "flu babi", menjadi pandemik pada 2009 dan menyebabkan 17.000 kematian—sebagian besar di Amerika. Lalu ada H5N1. Subtipe ini tak asing bagi Indonesia. Sejak 2005 hingga 2012, H5N1 memicu 160 kematian dari 192 kasus di Indonesia atau rata-rata 83,3 persen. Angka itu menjadikan Indonesia negara dengan korban H5N1 terbesar atau sekitar 43,12 persen dari 371 kematian di seluruh dunia.
Sebagai 'bintang' baru di dalam keluarga besar virus tipe A: H7N9 cukup fenomenal. Dalam waktu kurang dari dua bulan, ia menginfeksi lebih daripada seratus orang di pesisir timur Cina. Daya bunuhnya fantastis: seperlima di antara yang kena serang akhirnya mati dan lainnya dalam kondisi kritis di rumah sakit. H7N9 menyebabkan pneumonia parah dan bisa memicu kegagalan multiorgan.
Chairul Anwar Nidom, pakar biologi molekular sekaligus Ketua Avian Influenza-zoonosis Research Center Universitas Airlangga, Surabaya, mengatakan virus flu burung memiliki kemampuan mutasi sangat tinggi. H1N1, H5N1, dan H7N9 muncul dari hasil kawin-mawin virus flu. Setiap subtipe ditandai oleh H (hemagglutinin) dan N (neuraminidase)—keduanya protein pada permukaan virus yang berfungsi mengikat virus dengan sel pada inangnya. H1N1, misalnya, memiliki H yang berasal dari babi yang ditemukan pada 1970-an, sedangkan N berasal dari burung di Eropa pada 1980-an. Sementara H5NI memiliki H dan N yang berasal dari unggas.
Pakar influenza yakin H7N9, seperti juga H5N1, memiliki H dan N yang berasal dari unggas. Persoalannya, kata Nidom, tingkat homologi virus itu dengan unggas hanya 94 persen, tak sama dengan tingkat homologi H5N1 yang mencapai di atas 98 persen. "Ini agak aneh," katanya. Walhasil, dia menduga ada donor virus selain unggas. "Menurut saya, wabah yang terjadi di Cina bisa dipicu oleh donor virus lain yang kebetulan belum ditemukan." Dugaan Nidom bisa jadi mengamini apa yang dikatakan Keiji Fukuda, Asisten Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia WHO, bahwa H7N9 virus yang "tak biasa dan berbahaya".
Satu lagi yang membuat H7N9 "tak biasa". Tak seperti H5N1, virus baru ini sangat jinak bagi unggas. Akibatnya, virus semakin sulit dideteksi karena tak ada unggas semaput jika terinfeksi. "Terhadap hewan, dampak virus ini memang subklinis atau tak tampak gejalanya," kata Pudjiatmoko.
Kemampuan H7N9 menginfeksi 127 orang di Cina dalam waktu kurang dari dua bulan sudah menunjukkan potensi ancamannya. Meskipun demikian, para ahli terbelah. Sebagian masih memandang potensi ancaman terlampau dibesar-besarkan. Toh, virus masih terkonsentrasi di Cina. Itu pun tak terjadi di semua provinsi. Hanya di Shanghai, Anhui, Jiangsu, dan Zhejiang. Apalagi virus menyebar hanya dari hewan ke manusia. Tidak ada laporan infeksi dari manusia ke manusia. "H7N9 masih zoonosis, masih menular dari unggas ke manusia," kata Ketua Komite Nasional Pengendalian Zoonosis Emil Agustino.
Namun, peluang transmisi manusia ke manusia bukan sama sekali tak ada. Tahun lalu, riset ilmuwan Universitas Erasmus di Belanda dan Universitas Wisconsin-Madison di Amerika Serikat menemukan virus H5N1 membutuhkan lima tahapan mutasi sebelum mampu menyebar dari manusia ke manusia. Sementara saat ini, H7N9 diketahui telah melalui dua dari lima tahapan tersebut. "Semua kemungkinan selalu ada tapi saya berharap itu tidak terjadi," kata Ida Bagus Sila Wiweka, dokter spesialis paru di Rumah Sakit Pusat Infeksi Sulianti Saroso, Sunter, Jakarta Utara.
Terkait H7N9, Chairul A. Nidom punya hipotesis sedikit seram. Dia menduga wabah di Cina mengisyaratkan virus telah sampai di level penularan manusia ke manusia. H7N9 di Cina, kata Nidom, tak diawali dengan wabah pada unggas. "Tak ada satu informasi pun yang mengatakan adanya wabah flu burung pada unggas di Cina."
Tapi pada saat yang sama, H7N9 justru menyebar cepat kepada manusia. Jika dibandingkan dengan H5N1 yang membutuhkan delapan tahun untuk menginfeksi lebih daripada seratus orang, H7N9 di Cina telah melakukan itu hanya dalam kurun waktu kurang dari dua bulan. Artinya, jika H5N1 memerlukan "jalur khusus" untuk bisa menginfeksi manusia, hal yang sama tampaknya tak terjadi pada H7N9. Nidom pun berkesimpulan H7N9 sudah beradaptasi pada tubuh manusia sehingga sangat efektif menular ke manusia lain. "Meski harus menunggu kajian dan fatwa WHO, hipotesis saya wabah di Cina sudah human to human," katanya. Pendapat Nidom berikutnya lebih seram lagi. Katanya: Indonesia perlu mukjizat untuk mencegah masuknya virus H7N9.
* * *
Bagi virus flu burung, pindah inang antarmanusia bisa jadi tinggal selangkah lagi. Riset kolaborasi Belanda-Amerika Serikat sempat hendak membuat virus yang mudah menyebar di antara manusia. Para ilmuwan memiliki dalih. Demi mengetahui potensi pandemik global—bahkan apokaliptik—mereka harus mengetahui jejak mutasi virus hingga bisa menyebar di antara manusia. "Apakah virus flu burung bisa dikonstruksi di dalam laboratorium, jawaban saya: ya dan sangat bisa!" tegas Nidom.
Riset pun memicu kontroversi. Banyak kalangan cemas virus hasil rekayasa keluar dari laboratorium dan digunakan pihak tertentu sebagai senjata biologis. Pemerintah Amerika dan Belanda memberlakukan moratorium terhadap riset selama satu tahun. Tapi di tengah kontroversi, dua jurnal ilmiah Nature dan Science sempat menerbitkan hasil sementara riset tersebut.
Sebelumnya, riset kontroversial pernah terjadi pada 2005. Ketika itu, Institut Patologi Angkatan Darat AS berkolaborasi dengan Southeast Poultry Research Laboratory dan Mount Sinai School of Medicine di New York City, berhasil merekonstruksi virus flu H1N1 yang memicu pandemik paling mematikan dalam sejarah manusia. Pada Januari 1918 hingga Desember 1920, pandemik yang dikenal dengan "Flu Spanyol" ini menginfeksi 500 juta orang dan membunuh 50 hingga 100 juta di seluruh dunia.
Dengan menggunakan sampel jaringan dari jenazah perempuan korban flu yang terkubur di tanah beku Alaska, para ilmuwan berhasil membangkitkan virus tersebut dari kematian. Rima E Laibow, dokter sekaligus Kepala Natural Solutions Foundation, sebuah LSM yang mengawasi industri farmasi, menuding riset berperan dalam meletusnya wabah flu babi pada 2009.
Di Indonesia sendiri, saat merebaknya virus H5N1, tudingan miring banyak mengarah pada laboratorium medis militer Amerika di Jakarta (NAMRU). Menteri Kesehatan kala itu, Siti Fadilah Supari, menuding ada puluhan sampel virus H5N1 dari Indonesia yang berpindah tangan dan dikuasai sepihak oleh peneliti militer Amerika tanpa sepengetahuannya. Itu di luar kecurigaannya kalau laboratorium medis itu tak lebih dari kedok spionase medis.
Nidom, yang memantau sejak dini perkembangan varian virus H5N1 di Indonesia, juga menemukan indikasi virus tak bermutasi secara alamiah. Pada akhir 2012 dan awal tahun ini, Nidom menemukan H5N1 varian 2.3.2 menginfeksi dan menyebabkan kematian ratusan ribu hingga jutaan bebek di beberapa wilayah di Jawa Timur. Pejabat kesehatan lebih banyak membisu soal ini.
Varian ini, Nidom menduga, dibawa masuk "pihak tertentu" untuk mencemari air dan mempermudah 'penularan' pada manusia. Sebab, peternak bebek di Indonesia masih mengandalkan model konvensional "mengangon" atau mengarak bebek ke sawah dan sungai. Selain itu, secara ekonomi nilai bebek masih kalah pamor dari ayam. "Ketika menganalisis varian 2.3.2 terhadap bebek, saya mengajak semua pihak waspada terhadap aspek bioterorisme," katanya.
Nidom bilang dia bisa menerima tudingan sebagian orang kalau dirinya "paranoid". Kendati, katanya, pandemik influenza bukan persoalan sepele dan semata menyangkut kesehatan manusia. Di balik urusan ini juga ada unsur kesehatan hewan ternak dan bisnis besar yang menyertainya. Dia menyebut obat antiviral, vaksin, serta tak terhitung kerugian ekonomi dan produktivitas ekonomi peternakan jika pandemik terjadi. "Kesiapan menghadapi aspek-aspek bioteror sudah mendesak. Ini sudah menyangkut pertahanan negara yang paradigmanya sangat berbeda dengan aspek kesehatan."
***
Di utara Jakarta, Sabtu pagi pekan lalu. Rumah Sakit Pusat Infeksi Sulianti Saroso terlihat sepi. Setidaknya sejak 2005 hingga 2009, ketika wabah virus flu burung H5N1 menyerang Indonesia, Rumah Sakit sempat menjadi pusat perhatian. "Di sini ramai kalau ada kasus flu burung saja," ujar salah seorang pegawai.
Ruang isolasi khusus pasien penderita infeksi, terutama flu burung pun, tampak terkunci rapat. Sejak 2011, tak ada lagi pasien terinfeksi flu burung yang dirawat di ruang itu.
Kini, menyusul merebaknya wabah H7N9 di Cina, pihak Rumah Sakit sudah menerima perintah siaga. "Kami diminta terus memonitor, meneliti, dan menyediakan vaksin," kata Ida Bagus Sila.
Di Indonesia, terdapat seratus rumah sakit rujukan untuk penyakit infeksi. Tiga di antaranya berada di Jakarta, yakni RSPI Sulianti Saroso, RS Persahabatan, dan RSPAD Gatot Subroto.
ROCHE DAN DONALD RUMSFELD
Selain rumah sakit, Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Tjandra Yoga Aditama mengatakan Kementerian Kesehatan sudah meminta dinas kesehatan di daerah untuk terus memantau perkembangan virus H7N9. Jika terjadi infeksi, daerah harus melapor ke Jakarta. Pemantauan juga dilakukan di pintu-pintu masuk di pelabuhan dan bandar udara. Petugas akan memeriksa orang yang datang dari daerah terjangkit di Cina. "Saya sudah berkali-kali memberi tahu dan meminta ini," kata Tjandra kepada SINDO Weekly.
Belum cukup. Pada 10 April, Pemerintah menutup keran impor unggas asal Cina. Bagi unggas yang terlanjur masuk, pemeriksaan dan pengambilan sampel akan terus dilakukan. Meskipun demikian, travel warning ke Cina belum akan diberlakukan. "Keputusan WHO, sampai hari ini tidak ada travel warning," kata Tjandra.
Upaya antisipasi tampak maksimal. Emil pun meminta masyarakat tak perlu panik. Budaya hidup bersih, seperti mencuci tangan dengan sabun dan alkohol 70 persen, sudah bisa membunuh virus. Kalaupun sampai terinfeksi, katanya, Rumah Sakit sudah menyiapkan stok Tamiflu, obat penangkal virus flu burung, yang cukup. "Untungnya H7N9 itu masih sensitif terhadap obat antiviral Tamiflu," kata Emil lagi.
Pada akhir 2005, Roche, perusahaan raksasa farmasi asal Swiss yang memegang hak eksklusif memproduksi dan memasarkan Tamiflu, mempersilakan Indonesia membuat sendiri obat antiviral itu tanpa lisensi. Kementerian Kesehatan kemudian menunjuk perusahaan farmasi pelat merah Biofarma untuk memproduksi Tamiflu. Pada 2006, Biofarma memproduksi dua juta butir per hari meski bahannya masih diimpor dari India, Korea Selatan, dan Cina.
Roche mendapat hak eksklusif itu dari Gilead Science sebagai pemegang paten. Perusahaan bioteknologi berbasis di Foster City, California, itu uniknya sarat dengan koneksi politik. Bekas Menteri Pertahanan AS Donald Rumsfeld pernah menjadi CEO perusahaan itu sejak 1997 hingga 2001 saat ditunjuk George W. Bush sebagai bos di Pentagon. Tak ayal, Rumsfeld sempat kena tuding ikut bermain saat Presiden Bush pada November 2005 menganggarkan hingga 2 juta miliar dolar AS untuk menimbun Tamiflu—meskipun AS bukanlah negara yang terpapar oleh H5N1. "Wabah ini ada kaitan dengan kepentingan ekonomi produk itu," kata Nidom.
* * *
Bersama koleganya di AIRC Unair Surabaya yang bekerja sama dengan Pusat Penelitian Teh dan Kina PT Riset Perkebunan Nusantara, Nidom berhasil mengembangkan obat herbal yang digdaya membunuh virus H5N1. Tamiflu sendiri hanya sanggup menekan perkembangan virus pada 40 jam pertama infeksi.
Herbal itu adalah Teh Putih Gamboeng. Hasil seduhan kedua dan ketiga teh teruji mampu menghentikan pertumbuhan H5N1 asal manusia. "Jadi masyarakat tak perlu panik. Tidak perlu juga impor obat. Cukup minum teh dengan teratur dan perasaan senang," kata Nidom yang menyayangkan Pemerintah karena belum tertarik mengembangkan hasil penelitiannya.
H7N9
Anggota keluarga virus flu burung tipe A. Subtipe H7 sebelumnya sangat jarang menginfeksi manusia. Namun, sebagai subtipe baru, H7N9 telah menginfeksi 127 orang dengan 27 di antaranya meninggal dunia (21,25%) sejak kemunculannya di Provinsi Zhejiang, Cina, pada 31 Maret 2013. Satu kasus penularan, tak berujung kematian, dilaporkan terjadi di Taiwan.
Gejala H7N9 pada Manusia:
Demam, batuk, pneumonia parah, bahkan bisa mengakibatkan keracunan pada darah dan kegagalan multiorgan.
"(H7N9) … virus langka yang berbahaya bagi manusia"
Keiji Fukuda, Asisten Direktur Jenderal WHO untuk Kesehatan, Keamanan, dan Lingkungan
Perbedaan dengan H5N1
H5N1 H7N9
• Lebih mematikan, tingkat kematian rata-rata 60% dari kasus yang muncul
• Membunuh unggas yang terinfeksi • Tingkat kematian seperlima dari kasus atau 21,25%
• Tidak membunuh unggas/hewan yang terinfeksi, sehingga sulit dideteksi dan dilacak
Potensi penyebaran dari manusia ke manusia
Sebuah riset kontroversial Universitas Erasmus Belanda dan Universitas Wisconsin-Madison Amerika Serikat terhadap H5N1 menemukan ada lima tahap kunci mutasi bagi virus tersebut untuk menyebar dari manusia ke manusia. H7N9 diketahui telah melalui dua dari lima tahapan tersebut.
Kasus Flu Burung (H5N1) di Indonesia
Tahun Jumlah Kasus Jumah Kematian
2005 20 13 (65%)
2006 55 45 (82%)
2007 42 37 (88%)
2008 24 20 (83%)
2009 21 19 (90%)
2010 9 7 (78%)
2011 12 10 (83%)
2012 9 9 (100%)
TOTAL 192 160 (83,3%)
Kasus Flu Burung (H5N1) di Dunia 2003−2012
622 kasus dengan 371 kematian. Tingkat kematian 60%.
Kontroversi Flu Burung H5N1
• Pada 2005, Gilead Silence, pemegang hak paten obat antiviral Tamiflu, mendapatkan kucuran hampir 2 miliar dolar AS dari anggaran Pemerintah Amerika Serikat yang memutuskan menimbun Tamiflu. Menhan AS pada saat itu, Donald Rumsfeld, pernah menjadi CEO Gilead sejak 1997 hingga 2001. Rumsfeld dituding bermain dalam keputusan tersebut.
• Atas desakan WHO, Roche, perusahaan farmasi raksasa asal Swiss dan pemegang hak eksklusif produksi Tamiflu, akhirnya mempersilakan sejumlah negara di Asia Tenggara, seperti Thailand, Vietnam, dan Indonesia, memproduksi sendiri Tamiflu tanpa lisensi.
• Dalam buku Saatnya Dunia Berubah!, Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari menuding sampel spesimen virus H5N1 Indonesia yang dikirim ke laboratorium WHO di Hong Kong, berakhir di Los Alamos National Laboratory, pusat penelitian medis militer Amerika Serikat, di New Mexico. Laboratorium ini terkenal karena pernah mengembangkan senjata biologis. Siti Fadilah yakin sampel virus milik Indonesia digunakan untuk membuat vaksin tanpa melibatkan Indonesia, atau bahkan untuk membuat senjata biologis. Washington, yang terpojok sejak tudingan mengemuka, lebih banyak menampik.
Langkah Pencegahan H7N9:
- Hidup bersih, cuci tangan teratur.
- Jangan pernah menyentuh langsung unggas yang mati mendadak.
- Periksakan diri segera ke rumah sakit terdekat bila menderita gejala gangguan pernapasan akut.




